Posted by: nuramaya | February 3, 2009

Dalam Doaku

Akhirnya satu demi satu telah menemukan jalannya, yang bisa jadi, penantian doa sekian lama…. Untuk 2 orang saudariku, heni dan bunga rumput, yang sedang menemukan keajaiban-keajaiban dari mahluk kecil yang ada di perutnya, hehe… pasti great:-). Untuk yang baru saja, mengawali pilihan jadi birokrat,, selamat ya, tapi ingat mimpimu gak hanya itu, dah..ditunggu kabar lainnya. Bagi yang baru saja, mengakhiri kesendirian, selamat menemukan keajaiban hidup pula dengan hidupmu yang baru bersama pangeranmu. Untuk yang akhirnya bisa keluar dari benteng UGM, oh…rasa senangku bukan kepalang, wuah…diriku harus melunasi janjiku padamu. Untuk halilintarku, yang ada di BATAN, nikmati saja episode hidupmu kali ini, bisa jadi engkau akan semakin menggelegar. Untuk sahabat kecilku waktu dialmamater, ternyata memang berat jadi dokter hewan di daerah, sehari bersamamu kemarin membuatku jadi bertanya pada diriku sendiri, “aku bisa gak ya?”, salut deh buatmu:-). Dan…untuk yang lain, bu dokter lamongan, bu dosen unsoed, caleg kendari, bu guru pontianak, bu nurse yang dah punya baby, aktivis sosial Bandung dan pegiat MLM… serta yang hingga kini belum menemukan dirinya…  Untuk semuanya… “kita senantiasa berproses untuk menjadi,, siapa kita?”

Untuk sahabat-sahabatku semua, aku teringat dengan smsnya bu Kinkin Annida, selepas gempa di Jogja beberapa tahun silam, beliau mengirimkan donya:

Ya Allah, jadikan saudariku ini orang yang bertaqwa agar dengannya ia mampu membangun ummat yang shalih. Ya Allah, jadikan saudariku ini orang beriman agar dengannya ia bangun ummat yang kuat. Ya Allah, jadikan saudariku ini orang berilmu agar dengannya ia mampu menjaga ummat. Ya Allah, jadikan saudariku ini orang yang berlimpah harta agar dengannya ia mampu menentramkan ummat dengan dermanya. Ya Allah, tambahkankerinduan dan kecintaan hingga akhir hayat. Ya Allah, tolonglah kami semua. Amien.

Diakhir… ku kirimkan untuk kalian semua sajaknya ” Sapardi Joko Damono”, mari kita renungkan..

DALAM DOAKU

dalam doaku subuh ini

kau menjelma langit yang semalaman tak memejamkan mata,

yang meluas bening siap menerima cahaya pertama,

yang melengkung hening karena akan menerima suara-suara


ketika matahari mengambang tenang diatas kepala,

dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang hijau senantiasa,

yang tak henti-hentinya mengajukan pertanyaan muskil kepada angin yang mendesau entah dari mana


dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung gereja

yang mengibas-ngibaskan bulunya dalam gerimis,

yang hinggap diranting dan menggugurkan bulu-bulu bunga jambu,

yang tiba-tiba gelisah dan terbang lalu hinggap didahan mangga itu


magrib ini dalam doaku kau menjelma angin

yang turun sangat pelahan dari nun di sana,

bersijingkat dijalan kecil itu, menyusup di celah-celah jendela dan pintu,

dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku


dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,

yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit yang entah batasnya,

yang setia mengusut rahasia demi rahasia,

yang tak putus-putusnya bernyanyi bagi kehidupanku

aku mencintaimu, itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan keselamatanmu

(Sapardi Djoko Damono, 1989)


Responses

  1. salam kenal

    assalamau’alaikum

    http://www.bintang9.blogdetik.com

  2. ada banyak hikmah dalam setiap detik yang kita lewati… ada lantunan doa di setiap hela nafas yang kita hembuskan…
    doaqu… bintangku segera menemukan tempat labuhnya… dimanapun kita teruslah berpijar
    jangan ragu untuk terus melangkah…

  3. aku penggemar sapardi juga ;)

  4. akulah si telaga,
    berlayarlah diatasnya
    berlayarlah menyibakkan riak-riak kecil yang menggerakkan bunga-bunga padma
    berlayarlah sambil memandang harumnya cahaya
    sesampai diseberang
    tinggalkan begitu saja perahumu
    biar aku yang menjaganya….

  5. Di suatu tempat,
    Entah dimana,
    Di dunia seseorang menunggumu,
    Berdoa seperti doa yang biasa engkau ucapkan sehabis sholat.

    Pada suatu saat,
    Entah apabila,
    Di dunia seseorang merindukanmu,
    Berjaga-jaga seperti malam-malammu yang berlalu sangat lambat.

    Seseorang menunggu,
    Merindu,
    Berjaga dan berdoa di suatu tempat,
    Pada setiap,
    Seperti engkau,
    Selalu……

    (puisi ajip rosidi, “Ular dan kabut”, 1972)

  6. wuah…. bagus…
    kirimi lagi dunk sajak ajip rosidi yg lain….


Leave a response

Your response:

Categories