Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Mutiara yang Hilang

mutiara yg hilang          Begitu dalamnya ingatan ini akan mutiara itu menjadikanku amat sulit menggoreskan kata demi kata tentangnya. Walaupun mata ini sudah berbilang tahun tak menembus kebersahajaan yang tersimpan dalam pancaran kedua bola matanya. Pundak ini pun sudah beribu-ribu kali tarikan nafas tak direngkuh oleh pelukan hangatnya. Telinga ini pun sudah amat rindu mendengar tutur lembutnya. Dan kening ini pun sudah lama tak basah oleh ciumannya setelah ku cium punggung tangannya yang lembut dengan takzim.

      Aku akan mengurai kenangan tentang mutiaraku ini satu demi satu, dengan harapan keteladanan sajalah yang tersisa. Perempuan ini seorang gadis desa yang terpelajar. Kala itu, dalam keluarganya, beliaulah satu-satunya anak perempuan yang mengenyam pendidikan dan menjadi guru. Bagiku, beliau benar-benar seorang pecinta ilmu. Saat aku dilahirkan dari rahimnya, memang beliau sudah tidak lagi mengajar di sekolah madrasah, setingkat Sekolah Dasar (SD). Tetapi, apakah berhenti semangatnya untuk  membagi ilmunya? Ternyata tidak. Sebuah rumah di kompleks AURI Solo, menjadi saksinya. Beliau membuka kelas mengaji. Kelas mengaji itu dikhususkan untuk anak-anak sekitar rumah kami, termasuk anak-anak kampung di seberang kompleks. Tanpa diminta dan tanpa dibayar, semua atas inisiatif beliau. Saat itu, aku masih terbata-bata membaca huruf hijaiyah dengan metode iqra. Ikut berlomba-lomba bersama murid ibuku yang lain agar segera bisa membaca Al Qur’an dengan lancar.

        Kecintaannya akan ilmu tak hanya berhenti dirumah dinas mungil yang telah kami tinggalkan karena ayahku pensiun. Kepindahan kami ke lokasi transmigrasi di Lampung, menjadikan Ibuku semakin bersemangat membagi ilmunya. Beliau begitu cepatnya menyesuaikan diri dengan negri yang menurut bahasaku sekarang, adalah negri yang jauh dari hiruk pikuk dunia. Jarak antar rumah jauh, semak-semak masih menjadi hiasan umum di pekarangan tiap rumah. Bahkan terkadang ada ayam hutan dan kucing hutan berseliweran di halaman. Listrik pun juga belum ada, hingga kami jika belum sempat mengerjakan tugas sekolah di siang hari, terpaksa memicingkan mata hingga larut malam dengan mengandalkan cahaya dari lampu teplok. Beliaupun dengan setia membersamai kami sambil menyelesaikan tilawahnya yang tertunda usai, karena banyaknya pekerjaan di siang hari.

      Apa yang dilakukan ibuku di negri yang baru ini? Beliau memulai dengan menghidupkan masjid dan membuka pengajian bergilir dari rumah kerumah untuk ibu dan bapak sekitar kompleks. Dilanjutkan dengan membuka Taman Pendidikan Al Qur’an (TPA) untuk anak-anak sekitar masjid. Hal inilah yang menjadikanku, seorang gadis kecil kala itu, telah diangkat menjadi asistennya. Usiaku baru 7 tahun, tetapi ibuku telah menugaskanku mengajar teman-teman seusiaku yang lain. Tentu saja karena mereka belum bisa membaca huruf hijaiyah atau belum lancar membaca Al Qur’an. Ibuku memulai TPA itu hanya dengan bermodal 2 set iqra yang dibeli di Yogyakarta dan bangku panjang dari iuran para wali murid. Kemudian berkembang hingga memiliki bangunan sendiri dan tak hanya belajar baca tulis Al Qur’an tetapi juga ilmu agama yang lain layaknya pendidikan di sebuah madrasah. Alhamdulillah TPA itu masih ada dan masih berdiri kokoh bangunan untuk madrasah dan  Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD).

     Selain itu, ibuku ternyata cukup luwes dalam bermasyarakat. Beliau senantiasa meluangkan waktu berkunjung ketetangga dan memperhatikan keluarga yang kesusahan. Hal inilah yang mungkin menjadikan ibuku, seorang ibu rumah tangga, tanpa jabatan apapun, tanpa gelar dan dengan kesederhanaanya menjadikan tempat rujukan masyarakat sekitar. Saat beliau tutup usia karena sakitnya, aku semakin menyadari begitu luar biasanya ibuku ini. Bak mutiara, beliau keluarkan seluruh keindahan akhlaknya kepada sesama. Membagi ilmunya dalam kondisi apapun. Walaupun mutiara ini telah benar-benar meninggalkanku, keteladanan yang tertinggal cukup melekat kuat dalam kenanganku.

*Episode mengenangmu Ibu, setelah 18 tahun Engkau meninggalkan dunia.

Advertisements
Leave a comment »

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Segala puji hanya milik Allah. Apabila kita senantiasa bersyukur maka semakin banyak pemberian Allah yang kita rasakan. Tanpa terkecuali apakah rizki itu berupa harta, suami atau istri, anakanak, nikmat sehat atau bahkan yang tak dapat terlihat secara lahiriah seperti ketenangan batin dan kebesaran hati. Dimana kedua hal tersebut acapkali hilang dan dicari oleh banyak orang yang diliputi nikmat materi. Semoga kita tak pernah lelah mengucap syukur setiap detiknya atas segala pemberian Allah tersebut.

Saya pun ingin berbagi rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan pada kami sekeluarga, yakni saya, suami dan anakanak. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang putra menjadi hal yang luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, usia pernikahan kami, saya dan suami, baru memasuki tahun keempat. Tetapi kami sudah memiliki tiga orang putra dengan si sulung, Khunais Ibadurrahman, usia 3 tahun 7 bulan, disusul yang kedua dengan jarak 22 bulan, Shalahuddin Ghazi, sekarang usianya 23 bulan. Allah sungguh Maha Pengasih Penyayang, belum genap usia Ghazi setahun, bahkan kirakira usianya 7 bulan, saya sudah mengandung lagi anak ketiga. Sungguh produktif kan saya? Jadi, saat umur 16 bulan, Ghazi telah beradik Nuruddin Zanki.

Mungkin pengalaman punya banyak anak dan berjarak dekat usianya sudah banyak dialami oleh beberapa ibu. Dari kabar rekan yang seusia, beberapa dari mereka  juga mengalami hal yang sama, memiliki balita lebih dari 2 dan jarak usianya cukup dekat. Alhasil, karena kedekatan usia tersebut, menjadikan mereka amat dekat dan akrab. Mas, begitu si sulung di panggil terkadang sudah bisa menjadi guru dalam beberapa hal. Misal, saat membaca buku, Mas sudah bisa menceritakan kembali  isi buku itu ke adikadiknya, dengan bahasa yang seperti kita contohkan. Atau saat mau makan, si Mas akan membaca doa sebelum makan keraskeras, yang tentunya akan diikuti oleh adiknya. Bahkan, kemanapun Mas pergi,  Ghazi akan mengikutinya, dan melakukan hal sama dengannya.

Lain halnya kedekatan si Sulung dengan adiknya, Ghazi, Mas juga menjalin kedekatan dengan si bungsu, Zanki, dengan cara lain. Mas akan membuat akrobat menarik yang mampu membuat Zanki yang baru berumur 6 bulan terkekehkekeh. Atau mas juga menceritakan kembali cerita Umi ke adiknya sambil mengeluselus tangan atau kepalanya. Oleh sebab itu, Zanki pun memberikan respon positif  saat didekati Mas, entah tersenyum ataupun sampai tertawa. Bahkan akan mencaricari Mas saat tak nampak di penglihatannya.

Bagaimana kedekatan Ghazi dengan Zanki? Oh, mereka tentu saja memiliki hubungan yang sangat khusus. Mereka satu periode sepersusuan. Maksudnya? Saat saya mengandung Zanki, aktivitas menyususi Ghazi tetap saya lakukan, dan alhamdulillah semuanya sehat dan bahkan Zanki memiliki berat badan lahir lebih berat dari ketiganya. Terkait dengan tumbuh kembang Zanki pun tidak ada masalah. Zanki tumbuh dan berkembang sesuai dengan periode usianya. Ghazi dan Zanki dalam satu periode sepersusuan, maksudnya, sampai sekarang Ghazi masih menyusu bersama Zanki. Jadi, jika Zanki menyusu maka Ghazi akan mendekat dan juga ikut menyusu. Saat menjelang tidur dan bahkan terbangun saat tidur malam, ghazi pun ikut menyusu juga. Sebenarnya bukan ikut, tapi memang ASI juga hak Ghazi, karena usianya belum genap 2 tahun.

Awalnya, sangat berat rasanya menyusui 2 orang anak sekaligus. Terlebih Ghazi akan menangis histeris jika tidak di beri Air Susu Ibu (ASI).  Tentu saja menambah rasa panik saya jika keduanya menangis. Kemudian, saya mencoba mencari artikel tentang menyusui anak kembar dan tandem nursing. Ternyata, teknik menyusuinya tidak bergantian, tetapi sekaligus bersamaan satu periode waktu. Alhasil, kedua anak ini menjadi sangat kompak. Jika Ghazi belum datang mendekat, Zanki akan menunggu dengan enggan menyusu. Begitu pula Ghazi, dia akan mendahulukan adiknya pada posisi mapan menyusu, setelahnya baru dia menempatkan diri. Saat Zanki belum bisa tidur maka Ghazi pun demikian. Sebaliknya, mereka pun akan tertidur bersamaan. Walaupun berbeda usia, mereka layaknya anak kembar, hati mereka saling bertaut. Subhanallah.

Terlepas dari hiruk pikuknya pekerjaan rumah tangga yang senantiasa hadir setiap harinya. Kebersamaan saya bersama mereka sungguh luar biasa. Dari ketiga anak ini, Allah telah memberikan begitu banyak pelajaran hidup yang dapat menjadikan saya senantiasa bersyukur. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bukittinggi.

Tulisan ini saya buat untuk memenuhi tugas pertama di kelas menulis yang di asuh oleh Bu Ida Nur Laila dan Pak Cahyadi Takariawan.

Leave a comment »

copas neh… dari seorang kawan lamaa… :-)

Suatu hari, seorang anak 3 tahun diajak Ibunya pergi ke dokter. Di ruang tunggu dia bertemu dengan seorang perempuan yang sedang hamil. Lalu anak itu bertanya:

“Apa yang ada dalam perutmu?”
Perempuan itu menjawab bahwa ada bayi di dalam perutnya. Si anak bertanya lagi: “Apa dia anak yang baik?”
“Tentu saja dia anak yang baik” jawab perempuan itu lagi.
Si Anak kembali bertanya: “Kalau dia anak yang baik, kenapa kamu memakannya?”
Leave a comment »