Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Belajar dari Sebuah Penuturan

on February 15, 2008

Disuatu pagi, saya secara tidak sengaja mendengarkan sebuah acara talkshow keluarga dari salah satu stasiun radio FM. Pada sesi tanya jawab, ada salah seorang pendengar yang menuturkan kisah hidupnya. Dia telah menikah sekian tahun. Anaknya kini telah berumur sembilan tahun. Selama perjalanan pernikahan itu, suaminya tidak bekerja. Kehidupan rumah tangga mereka dinafkahi olehnya. Terhadap kondisi ini apa yang harus saya lakukan? Begitulah dia mengakhiri penuturannya dengan pertanyaan yang mungkin sudah sekian tahun ingin mendapat jawabannya.

Mendengar penuturan itu, saya kembali teringat beberapa cerita dari bukunya Asma Nadia, Catatan Hati Seorang Istri. Saya dan mungkin beberapa perempuan lain, baik yang telah menikah dan terlebih lagi yang belum menikah cukup tersentak dengan beberapa kejadian nyata yang disampaikan di buku tersebut. Sedikit ngeri, bahkan cukup fobia untuk menjadi kenal dan juga mengiringi hidup seorang lelaki. Tetapi tentu saja, kita tak bisa menjadi paranoid dengan kisah-kisah yang terjadi pada beberapa orang itu. Yang lantas menjadikan kita enggan menikah (bagi yang belum menikah). Atau tak ingin dekat-dekat dengan suami dan menaruh prasangka terhadap suami jika telah menikah. Kita tentu harus mampu arif bersikap dan menyikapi setiap kejadian.

Saat itu narasumber menguatkan sang ibu dengan mengingatkan kembali hakekat pernikahan. Sebuah pernikahan adalah upaya saling menguatkan. Saling mengusahakan untuk menutupi kelemahan pasangan. Kondisi rumah tangga ibu tersebut tentu saja sangat tidak ideal. Sang suami yang seharusnya menafkahi keluarga tersebut ternyata tidak melakukan kewajibannya. Dan sang istri dengan rela selama mungkin kurang lebih sepuluh tahun menanggung tugas itu. Pada kasus ini yang dibutuhkan adalah solusi. Sesegera mungkin sang suami mencari pekerjaan sehingga mampu menafkahi keluarganya. Tetapi, mencari pekerjaan tidak semudah yang dibayangkan. Oleh sebab itu, disinilah peran istri untuk menguatkan. Misalnya dengan menumbuhkan potensi-potensi yang dimiliki sang suami, mensuport untuk terus berupaya bersama-sama dan mungkin menfasilitasi proses itu. Memang terkadang menjadi sangat tidak mengenakkan. Terlebih pada suami yang selama ini bergantung pada istrinya, tetapi tidak ada pilihan lain. Itulah harga yang harus dibayar agar rumah tangga kembali normal sehingga kepala keluarga mampu bertanggung jawab terhadap keluarganya. Bagi sang istri, hal inipun tidak mudah, karena hanya kesabaran dan keikhlasanlah yang menjadikan mereka senantiasa mampu hidup bersama sekian tahun hingga anaknya telah tumbuh besar.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: