Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Ikhlas

on February 15, 2008

Pada suatu saat saya kembali terhenyak dan merasa begitu terdesak dengan makna “Ikhlas”. Kata yang telah banyak dikatakan oleh banyak orang tetapi tak jarang banyak orang yang tak sanggup untuk mengamalkan. Dan saat itu, semua terus berdengung, ikhlas…ikhlas….ikhlas…. Berkelindan di kepala dan begitu berkecamuk di dalam hati, “Sungguhkah keikhlasankah yang dibutuhkan?” Sampai-sampai saya menyengaja menghubungi beberapa kawan lama yang berkarakter hampir sama dengan saya untuk didengar langsung pendapatnya tentang ikhlas atau secara tersirat saya mendengarkan penuturannya tentang segala peristiwa yang terjadi padanya beberapa pekan atau bulan terakhir. Kalau-kalau, secara tak sengaja saya bisa menjangkau pikirannya tentang makna ikhlas.

Jauh didasar hati saya pun kembali terketuk dengan kehidupan yang sedang saya jalani. Sejak saya hanya bisa menyebut kata “ibu” hingga saya sekarang telah mampu mengungkapkan beribu-ribu kata bahkan menyatakannya dengan bahasa yang mungkin lebih baik dari orang lain. Dari saya hanya bisa menangis jika merasa haus dan lapar sampai saya bisa merasakan makna berbeda dari tangisan. Ada tangis dalam kegembiraan, ada tangis dalam keharuan, ada tangis dalam kesedihan dan ada tangis karena tangis yang lain. Dari yang tidak punya apa-apa didunia ini hingga menjadi orang yang cukup bahkan mencukupi atau dilewatkan rizki orang lain lewat tangannya. Semua mengalir saja, tanpa penolakan…nrimo atau menerima saja semua itu. Yang boleh saya katakan, menerima saja keajaiban-keajaiban hidup itu. Perwujudan ke Maha Perkasaan Sang Pembuat Hidup. Lagi-lagi…saya jadi teringat “Si Ikhlas” yang terus saja membayang-bayangi. Tetapi…saya merasakannya sebagai sebuah desakan rasa syukur kita terhadap Sang Pembuat Hidup. Ah…bukan desakan, tetapi kesadaran bahwa..jika ada nikmat maka ada syukur. Aisyah r.a pernah bertanya kepada Rasulullah saat beliau melakukan qiyamullail hingga kedua telapak kaki beliau bengkak, “Ya Rasulullah, mengapa Anda memberatkan diri seperti ini, sedangkan Allah telah mengampuni dosa-dosa Anda yang telah lalu maupun yang akan datang?” Lantas Beliau menjawab “Tidakkah selayaknya aku menjadi hamba yang bersyukur?”. Sungguh indah sekali ungkapan beliau. Ada syukur dari segala nikmat. Dan hal itu tidak hanya berhenti pada makna syukur tetapi diwujudkan dalam amalan yang menandakan kesyukuran itu. Ah..kawan…saya menjadi teringat dengan jawabanmu tentang “ikhlas” bahwa dalam ikhlas ada ikhtiar dan kepasrahan kepada Allah SWT. Dalam ikhlas ada amalan yang dilaksanakan karena rasa syukur, rasa takut dan rasa harap kepada Allah SWT sehingga membuahkan kecintaan kepadaNya. Wallahu’alam Bishowab.

Sudut Hamasah, 12 Februari 2008, 11.19

Saat Hati Kembali Terhenyak Akan KeajaibanMu

Thank’s God…


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: