Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Karena Ini Yang Boleh Tampak

on February 15, 2008

Dalam Islam, ada bagian tertentu dari diri kita yang tidak boleh dipandang atau tidak boleh tampak oleh orang lain. Ini nih yang disebut aurat. Aurat antara laki-laki dan perempuan tentu saja berbeda dan juga tergantung yang melihat apakah perempuan, laki-laki atau mahram*)nya.. Tidak hanya itu, aurat juga dipandang berdasarkan usia, apakah anak-anak, dewasa atau lansia. Ada juga kondisi tertentu yang dikhususkan berkenaan dengan aurat ini, misalnya saat sakit atau pemeriksan medis.

Mengenai aurat perempuan, kita lihat nih sabda Rasulullah pada Asma’:

“Wahai Asma’, sesungguhnya perempuan itu apabila telah dewasa tidak layak kelihatan darinya kecuali ini dan ini (sembari beliau menunjuk ke wajah dan kedua telapak tangan beliau)”.

Dari hadist tersebut, bahwa bagi perempuan dewasa auratnya adalah seluruh tubuhnya kecuali wajah dan telapak tangan (serta punggung telapak tangannya). Tapi ada perkecualian, yakni disebutkan dalam al Qur’an surat An-Nuur: 31, bahwa ada 12 golongan yang boleh melihat bagian tubuh lain kecuali punggung, perut, kedua alat kelamin dan paha. Ke-12 golongan ini adalah:

1. Suami

Jika nanti telah bersuami, suami boleh melihat bagian manapun dari tubuh istrinya.

2. Ayah, termasuk kakek dan seterusnya keatas dari ayah/ibu

3. Ayah Suami (mertua)

4. Anak-anak laki

Termasuk cucu-cucunya, laki-laki ataupun perempuan

5. Anak laki-laki suami (anak tiri)

Karena mereka harus bergaul dengannya, disamping karena kedudukan dirinya sebagai ibu dalam rumah tangga.

6. Saudara laki-laki, baik sekandung, seayah atau seibu saja.

7. Anak laki-laki dari saudara perempuan (keponakan)

Karena antara seorang laki-laki dengan saudara perempuan ibunya terdapat hubungan kemahraman yang abadi.

8. Anak laki-laki dari saudara laki-laki

Karena antara seorang laki-laki dengan saudara perempuan ayahnya terdapat hubungan kemahraman yang abadi.

9. sesama perempuan

Baik ada hubungan nasab (keturunan) maupun agama.

10. hamba sahaya

11. orang-orang yang ikut serumah yang tidak punya gairah syahwat terhadap perempuan

Jadi harus memenuhi 2 syarat, yaitu mengikut dan tidak bersyahwat.

12. Anak-anak kecil

Yang tidak mungkin bersyahwat ketika melihat aurat perempuan. Mereka adalah anak-nak yang didalam diri mereka belum ada nafsu syahwat.

Kalau aurat laki-laki, bagaimana? Aurat laki-laki yang tidak boleh dilihat orang lain baik oleh laki-laki maupun oleh perempuan dibatasi antara pusar dengan lutut sebagaimana disebutkan dalam hadist. Tetapi sebagian imam seperti Ibnu Hazm dan sebagian ulama malikiyah berpendapat bahwa paha bukan aurat.

Sebagaimana sabda Nabi kepada Asma’ diatas, bahwa aturan menutup aurat yang diperintahkan oleh Rasul tersebut hanya pada perempuan dewasa atau baliq. Bagaimana dengan anak-anak? Dalam 12 golongan dalam Qur’an surat An Nuur: 31, anak kecil termasuk didalamnya yang boleh melihat selain muka dan telapak tangan. Dan tentu saja bagi mereka juga dibolehkan tidak menutup aurat sebagaimana layaknya perempuan dewasa.

Bagi yang lansia (lanjut usia), seara khusus Allah menurunkan firmannya dalam Al Qur’an Surat An Nuur: 60. Wanita-wanita yang telah berhenti dari haid dan melahirkan karena sudah tua dan tidak ingin menikah lagi, sehingga mereka sudah tidak berkeinginan terhadap laki-laki, sebagaimana laki-laki juga sudah tidak tertarik kepadanya. Maka Allah memberi keringanan kepada mereka dan tidak menganggap berdosa jika mereka melepaskan sebagian pakaian luarnya yang biasa tampak seperti baju kurung, kebaya, kerudung dan lain sebagainya. Al Qur’an memberi batas keringanan ini dengan kata-kata “Tidak menampakkan perhiasan”, yakni dengan menanggalkan pakaiannya itu tidak bermaksud menampak-nampakkan. Akan tetapi keringanan ini diberikan bila mereka membutuhkan. Meskipun ada keringanan seperti itu, namun yang lebih utama dan lebih layak ialah tetap menjaga diri dengan mengenakan pakaian-pakaian tersebut untuk mencari kesempurnaan dan menjauhi segala macam subhat. Oleh sebab itu, Allah berfirman, “Dan berlaku sopan adalah lebih baik bagi mereka”.

Berkaitan dengan kondisi khusus seperti sakit atau pemeriksaan medis, Islam memberikan aturan yanng tidak memberatkan, yakni dibolehkan untuk membuka aurat pada saat pemeriksaan medis atau kondisi sakit tertentu bagi dokter atau perawat. Akan tetapi, kemudahan ini hendaknya tidak dimudah-mudahkan sehingga menjadi alasan untuk membuka aurat. Misalnya saja sakit flu atau jerawat diwajah, kan gak perlu membuka bagian perut seperti pada saat operasi saluran pencernaan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: