Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Menjadi Bagian dari Anak-anak

on February 15, 2008

Pengalamanku bergaul dengan anak-anak selama menjadi relawan ternyata belum cukup untuk membentuk jiwaku menjadi “penyayang” anak-anak. Terbukti saat aku kembali terjun dimasyarakat dan juga dipertemukan kembali dengan anak-anak. Cukup sulit menjadi bagian dari mereka dan cukup sulit pula memahamkan dunia kita pada mereka. Walaupun demikian, anak-anak telah menjadi bagian penting dalam mengisi hari-hariku saat bersama masyarakat. Anak-anak telah menjadi mahluk istimewa bagiku. Katanya, anak-anak dapat dibentuk sesuai dengan yang mengarahkan. Menjadi putih atau hitam sekalipun. Ibarat seperti kertas putih, tergantung siapa yang menuliskannya. Coretan gelap oleh tinta ataukah lukisan indah yang bisa dimaknai. Sekali lagi, tergantung yang menuliskannya atau melukiskannya.

Hal itulah yang seringkali menjadikan pepatah “buah tak jauh dari pohonnya” menjadi sangat populer bagi kita semua. “Anak, ya… mengikuti bapaknya, atau ibunya atau orang tuanya…”. Walaupun sebenarnya tidak menutup kemungkinan hal itu menjadi tidak benar. Atau kebenaran pepatah itu tidak mutlak. Ambil saja kisah para Nabi yang dapat dijadikan contoh. Misalnya kisah Nabi Nuh yang menyebarkan ajaran tauhid justru putranya ingkar atau sebaliknya ada kisah Nabi Ibrahim yang justru bapaknya penyembah berhala. Kita mungkin perlu juga menyebut kisah yang menjadikan pepatah tersebut menjadi sebuah kebenaran. Kisah Nabi Ismail yang sholeh dan memiliki bapak yang juga sholeh, menjadi bapak para nabi yakni Nabi Ibrahim. Kesemuanya memang contoh, dan kesemuanya bisa terjadi dan kita alami sekarang.

Saya dulu juga pernah merasakan menjadi anak-anak. Saat itu, dunia serasa tanpa beban. Yang ada hanya keinginan untuk bermain dan bersama dengan banyak teman. Motivasi ke sekolah ya karena ada teman-teman, mengaji juga karena teman-teman. Sehingga saat harus berbeda keinginan dengan salah seorang teman, dunia serasa berhenti, berhenti…dan enggan bertemu dengan si teman. Itulah motivasinya. Sederhana, tapi menarik. Anak-anak sangat polos. Bahkan capek pun tak terasa saat mereka sedang asyik melakukan kesenangannya. Tak ada rasa lelah. Makanya jangan berpikir bahwa anak akan memikirkan begitu sulitnya hidup ini. Karena Anak-anak tidak pernah berpikir berapa harga beras sekarang atau bahkan besok akankah masih makan nasi?

Walaupun keterlibatan saya bersama anak-anak memang tidak begitu intens. Akan tetapi beberapa moment yang saya ikuti cukup menjadikan saya menaruh hati pada tangan-tangan kecil yang nantinya akan menjadi harapan masa depan Derman. Panggil saja Mirul, anak ini menurut saya cukup berbakat. Saat dia tampil di lomba baca puisi yang kami selenggarakan, dia tampil paling siap dan begitu menghayati apa yang dia bacakan. Ternyata, saat saya ngobrol dengannya, dia memang pernah mengikuti lomba baca puisi di kabupaten. Dan menjadi juara I pada lomba tersebut. Jujur saja, baru kali itu saya bisa menangis karena mendengar seorang anak kecil membaca puisi. Bisa jadi karena didukung syairnya yang mengharu biru, tetapi jelas saya mengakui bahwa gadis kecil ini berbakat. Ada lagi, Pamungkas namanya. Ibunya meninggal saat gempa. Dikalangan anak-anak Derman, dia jadi idola. Selain menyenangkan dalam berteman dia juga anak yang cerdas dan berbakat. Saat dia membaca puisi untuk persiapan perpisahan dengan mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Universitas Gadjah Mada (KKN UGM) seluruh teman-temannya dibuat menangis dengan pusinya yang berjudul “ibu”, menghayati dan begitu menyentuh. Saat diadakan lomba-lomba pun dia anak yang cukup menonjol. Pengetahuan tentang wawasan keislamannya tampak lebih unggul daripada teman-teman sebayanya. Selain Mirul dan pamungkas, ada lagi anak yang cukup menarik bagi saya, namanya Bobby. Teman-teman saya menjulukinya “Si Potensi Konflik”. Jadi selalu saja teman-teman saya saat bersama Bobby mengatakan “Bobby…kamu sangat potensial, potensial membuat konflik..” Sebenarnya hal itu sangat tidak mendidik. Tetapi, “Tidak akan ada api kalau tidak ada asap”. Ya..Bobby memang senantiasa membuat semua jadi kisruh. Entah pertengkaran dengan temannya, merusakkan barang atau tindakan lain yang memang memicu konflik. Setiap diperingatkan, dia cuma diam dan dikesempatan lain dilakukan kembali perbuatan itu. Karena “potensi konfliknya” itu, dia seringkali terpilih menjadi pemimpin diantara teman-temannya. Di sekolah pun dia terpilih menjadi ketua kelas.

Mirul, pamungkas, Bobby adalah beberapa perwajahan konkret anak-anak. Menemukan dunia keceriaannya, menunjukkan bakat masing-masing dirinya, mengingat betul kenangan terdalamnya dan tak melupakan membuat kenakalan-kenakalan kecil. Begitulah anak-anak. Saat kita memikirkan untuk dekat dengan masyarakat, maka anak-anak adalah salah satu bagiannya. Anak-anak tidak akan pernah melupakan kenangan terdalam masa kecilnya. Ditawarkan rasa apapun dimasa kecilnya, kelak menjadi rasa itulah saat besar nanti. Menjadi bagian dari mereka, menjadi cukup penting untuk membentuk karakter masa depan mereka. Kelak, suatu saat nanti mereka yang akan menjadi masyarakat baru dan menjadi pilihan sadar bagi kita untuk menuliskan harapan gemilang untuk masa depan mereka.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: