Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Mosi Tidak Percaya Pada Ikhwan

on February 15, 2008

Jika melihat lulusan perguruan tinggi atau istilahnya sarjana atau insinyur atau apalah sebutannya, pastilah masyarakat umum akan bertanya “Wah..sudah lulus…sudah kerja dimana mbak..atau mas? Gajinya berapa?” seringkali pertanyaan-pertanyaan itulah yang menyibukkan kita pasca lulus. Gelisah dengan pandangan masyarakat. Sudah disekolahkan tinggi-tinggi kok ya..masih saja belum punya kejelasan status penghidupan. Padahal bisa saja bagi sebagian kita, berkeyakinan bahwa kuliah tidak semata-mata untuk mencari pekerjaan. Kuliah untuk membangun kapasitas keilmuwan kita. Tetapi apalah kita, tetap saja ada nilai dari masyarakat yang mengusik kita. Tetapi disini saya tidak ingin membahas hal-hal yang berbelit tentang kenapa kita harus kuliah tinggi versi masyarakat maupun kita secara pribadi.

Saya hanya teringat kegelisahan seorang akhwat yang cukup dekat dengan saya waktu di kampus. Waktu itu, kami sama-sama baru lulus. Saya sedikit lebih dulu mendahuluinya. Ditawari pekerjaan dan akhirnya meninggalkan Yogyakarta untuk menerima tawaran tersebut. Mungkin sebagian besar kita yang baru saja lulus kuliah “fresh graduate” mengidap apa yang dialami sahabat saya ini. Dia menjadi cukup tertekan dan merasa sangat takut merepotkan orang lain. Bahkan terhadap orang tuanya sendiri. Kebetulan beliau asli Yogyakarta dan tinggal bersama orang tuanya. Dia sekuat mungkin ingin segera mandiri. Mencari lowongan kemanapun, tes-tes dia ikuti dan bahkan tawaran hingga keluar Jawa pun dia coba. Hingga suatu saat, kami bertemu lewat dunia maya. Saling bertanya kabar dan mengalirlah diskusi kami. Saya menceritakan kondisi dakwah di tempat saya bekerja. Salah satu kabupaten di Jawa Timur yang terletak diujung timur pulau Jawa. Kota indah yang berseberangan dengan pulau Bali. Saya menyampaikan keterkejutan-keterkejutan terhadap kondisi yang berbeda saat di kampus. Saat itu saya mengatakan bahwa orang yang siap menyesuaikan dirilah yang dibutuhkan di daerah, karena kita akan bertemu dengan masyarakat yang beragam. Kebiasaan dan pengalaman kita saat berorganisasi di kampus menjadi bekal yang sangat penting. Sahabat saya pun berkomentar yang sedikit berbeda. Menurutnya, seberapapun bekal kita, tetap saja yang dibutuhkan sebenarnya hanya satu “kemandirian”. Jadi menurutnya, kalau kita bisa mandiri maka masyarakat pun akan dapat melihat dan bisa jadi interest. Kita bisa menjadi contoh, karena kita telah mampu bertanggung jawab minimal untuk bisa menghidupi diri sendiri. Tidak menjadi beban orang lain. Sehingga apa yang kita sampaikan pun bisa dapat lebih diperhatikan. Begitu katanya. Saat itu, saya pun mengiyakan. Juga sedikit berkesimpulan, “Ah..ini sesuai dengan suasana hatinya yang sedang gelisah, mungkin…” Dan tentu saja ditambah dengan pembenaran-pembenaran di dalam hati bahwa permasalahan dakwah di daerah jauh lebih banyak. Tak hanya berupa kegelisahan masing-masing kita.

Tetapi saya tidak hanya mengendapkan pikiran itu begitu saja. Saya jadi kembali terusik. Saat tak sengaja saya mengantarkan seorang rekan akhwat ke sebuah sekretariat partai dakwah. Kami mungkin datang terlalu pagi. Pemandangan yang nampak jauh dari perkiraan kami. Beberapa ikhwan sedang tergeletak bermalas-malasan bahkan mungkin masih tertidur pulas. Ah…kami memperbaiki prasangka kami, mungkin saja..semalam begadang, ataukah…habis kerja lembur atau.. habis mengerjakan pekerjaan hingga larut malam. Ataukah…mungkin.. mungkin yang lain yang harus kita lakukan untuk menjauhkan prasangka. Dan kami pun melupakan peristiwa itu, sampai suatu saat kami menemukan kondisi yang sama. Dan orang yang hampir beberapa sama. Tertidur pulas. Hanya bedanya adalah terjadi di waktu yang cukup siang. Dan sebagian yang lain sedang khusuk menatap tampilan di layar kaca. Kami sebenarnya tidak mau ambil pusing dengan kondisi ini. Bisa jadi memang sedang waktunya istirahat. Kebetulan urusan kami pun tidak dengan mereka. Jadi  kami berusaha membuang jauh prasangka yang berkeliaran di kepala. Tetapi begitulah manusia, selalu saja jika ada peristiwa maka akan ada berita. Walaupun dalam sebuah komunitas penggerak dakwah sekalipun. Kita pun tak bisa menutup mata dan menyumbat telinga, bahwa kader dakwah pun juga manusia. Entah siapa yang menghembuskannya. Kondisi itupun sudah mulai dibicarakan. Pembicaraannya pun tidak hanya seputar adanya ikhwan yang tertidur pulas karena kelelahan disekretariat. “Loh…memangnya pekerjaannya apa sih? Kan sudah lulus ya? kok tidur-tidur saja ya mbak ya..? memangnya gak kerja ya mbak..kok masih di sekretariat?”.  Mungkin kalau diabadikan moment itu, wajah kami yang ditanya itu pun sudah tak karuan. Pias, malu dan juga miris. Oh…saudaraku…

Kegelisahan akan hadir sebagai buah dari keadaan yang tidak nyaman. Dan mungkin tak ada pilihan lain bagi kita selain gelisah. Gelisah seperti yang dirasakan sahabat akhwat saya tadi ataupun juga gelisah melihat kejadian-kejadian kebetulan yang saya alami. Kegelisahan sahabat akhwat saya tadi bisa jadi dikarenakan kondisinya itu menjadikannya sulit untuk berbuat banyak. Karena kita butuh pengakuan dari masyarakat sebelum kita menyampaikan dakwah kita. Dia merasa sangat terbatasi dengan status sosialnya yang belum jelas. Dan tentu saja kita harus lebih gelisah melihat fenomena kebetulan itu. Dalam Islam seorang laki-laki nantinya akan dituntut menjadi kepala keluarga dan tentu saja menafkahi keluarganya. Hal inipun telah menjadi pandangan umum bagi masyarakat kita. Kebutuhan dasarnya untuk mandiri tidak hanya untuk dirinya tetapi untuk calon keluarganya kelak. Maka tak heran, tuntutan terhadap maisyah bagi ikhwan lebih besar. Masalah pekerjaan memang masalah rizki dan Allah lah yang mempunyai Kuasanya. Tetapi, disini permasalahannya adalah bukan masalah siapa yang mendapatkan segera rizkinya ataupun yang tidak. Bukan juga laki-laki harus  punya pekerjaan tetap, gaji yang besar dan punya banyak fasilitas. Tidak. Tetapi dalam hal ini ada nilai dan proses. Adanya nilai bahwa kita adalah orang yang siap bertanggung jawab dan adanya proses dalam menyambut rizki tersebut. Bahwa Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali sesuai dengan apa yang di usahakannya.

Mungkin menjadi hal yang wajar jika beberapa akhwat semacam mengeluarkan mosi tidak percaya terhadap ikhwan. Mengupayakan kehidupan lebih mandiri daripada ikhwan. Mencoba berbagai peluang untuk mempunyai penghasilan sendiri. Alhasil, banyak bermunculan akhwat-akhwat karier yang jauh lebih stabil daripada ikhwan dari segi finansial. Bagi para akhwat, seringkali yang timbul adalah semacam perasaan khawatir akan perjalanan hidupnya. Kalau-kalau jika menikah justru tidak lebih baik dari saat sendiri. Bukan karena takut terhadap rizki yang akan di dapat. Kita tentu yakin bahwa rizki sepenuhnya urusan Allah. Tetapi, perasaan ragu akan kesiapan untuk dipindahkan penanggungjawabannya. Tanggung jawab atas dirinya yang sebelumnya di tangan sang ayah yang akan dialihkan pada calon suaminya tersebut. Tidak hanya sekedar untuk hidup dalam beberapa hari saja. Tetapi untuk dapat hidup bersama seumur hidup. Dalam hal ini sebenarnya yang dibutuhkan adalah adanya kemauan dan kerja keras untuk terus mengupayakan maisyah. Sang ikhwan pun dapat mandiri dari hasil kerja kerasnya itu dan tidak menjadi beban orang lain. Persoalan tanggung jawablah yang diutamakan, sehingga melahirkan kepercayaan. Bukankah membina sebuah keluarga adalah membangun sebuah peradaban? Kepercayaan dan keyakinan antara kedua belah pihak sangat menentukan pembangunan peradaban tersebut. Semua itu tidak serta merta terjadi begitu saja. Kesiapan bertanggung jawab dan kemandirian sangat mungkin disiapkan jauh sebelum para ikhwan rindu menikah. Misalnya saja mencoba berbagai peluang saat awal menjadi mahasiswa. Dari memulai bisnis kecil-kecilan ataupun mengasah skill yang dimiliki seperti menjadi teknisi komputer atau montir. Dan mungkin berjualan koran atau buku. Tak perlu ragu untuk memulainya asalkan ditempuh dengan jalan halal dan toyyib. Wallahu’alam Bishowab.

13 Februari 2008,

Hamasah, Pasca Perbincangan di Telephone

Untuk Yang Gamang Menjadi Pribadi yang Mandiri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: