Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Muslimah Berpolitik, Haruskah?

on February 15, 2008

“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim, laki-laki dan perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar, laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk, laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang berpuasa, laki-laki dan perempuan yang memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama) Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar”

(Al Qur’an Surat Al Ahzab:35)

Allah SWT menciptakan kehidupan dunia ini penuh ragam. Binatang, manusia, tumbuhan dan seluruh yang ada didunia ini, jelas semua beraneka ragam. Tak ada satu mahlukpun yang benar-benar sama, pasti ada perbedaannya. Manusia pun telah diciptakan Allah terdiri dari 2 jenis. Laki-laki dan perempuan. Kedua mahluk ini pun diciptakan secara biologis berbeda. Ada begitu banyak perbedaan yang sudah melekat dalam pikiran keduanya, bahwa laki-laki dan perempuan berbeda. Sehingga muncullah begitu banyak pendapat bahwa karena perbedaan-perbedaan tersebut maka terbatasilah peran salah satu diantaranya.

Terlepas dari pembahasan tentang begitu banyak perbedaan antara keduanya, tentunya kita harus mengingat dalil diatas. Ada yang lebih penting bagi keduanya, yakni kewajiban atau tanggung jawab laki-laki dan perempuan sebagai mahluk. Bahwa setiap mahluk, dan secara jelas disebutkan laki-laki dan perempuan akan disediakan ampunan dan pahala yang besar jika taat, benar, sabar, khusyuk, bersedekah, berpuasa, memelihara kehormatannya dan banyak menyebut (nama) Allah. Dalam hal ini, tak ada batasan bagi laki-laki maupun perempuan untuk sama-sama beribadah karena jelas ampunan dan pahala Allah SWT menanti di depan mata.

Dalam Islam, politik merupakan salah satu segmen kehidupan yang juga diatur didalamnya seperti halnya ekonomi, hukum, pendidikan, sosial, dan lainnya. Islam tidak memisahkannya dari aturan kehidupan sehari-hari. Tidak ada istilah ”politik itu kotor” atau istilah politik praktis lainnya seperti yang sekarang merebak. Politik, dalam Islam adalah sebuah sisi kehidupan yang tidak terlepas dari segala aturan Islam yang mendasarinya dan tidak hanya sekedar politik praktis.

Kita tentunya masih sangat ingat tentang perjalanan kehidupan Rasulullah dalam sirrah Nabawiyah. Petualangan politik beliau yang cukup mengesankan. Saat beliau mengawali hijrahnya, dan membuat piagam Madinah. Saat beliau benar-benar meletakkan pondasi dasar masyarakat Islam. Beliau telah menunjukkan contoh riil dalam berpolitik. Bahwa politik tidak hanya untuk meraup kekuasaan semata, tapi bagaimana dengan politik itu nilai Islam dapat memasuki jiwa-jiwa masyarakat saat itu. Atau saya lebih menyukai untuk mengatakan bahwa politik itu adalah syiar. Bahwa dengannya kita dapat menyampaikan yang ma’ruf dan melarang yang munkar. Satu point penting yang menjadi tugas seorang da’i.

Jika kita berangkat dari pemikiran tersebut. Muslimah berpolitik, haruskah? Jelas, saya tidak perlu menyebutkan kembali dalil yang menjelaskan tentang kewajiban kita untuk Amar Ma’ruf Nahi Munkar, baik laki-laki maupun perempuan. Akan tetapi, tentunya kita perlu menengok implementasi berpolitik sekarang ini. Bahwa politik adalah kaitannya dengan kepemimpinan maka ada beberapa pendapat para ulama yang harus kita perhatikan. Terkait tentang kepemimpinan seorang perempuan dalam kekhilafahan, para ulama bersepakat tidak memperkenankan. Dalam hal politik dan hukum, Imam Abu Hanifah memperkenankan perempuan menjadi pemimpin dalam hal-hal yang menjadi urusannya, yakni selain masalah pidana. Adapun Imam Thabari dan Ibnu Hazm memperbolehkannya menjadi pemimpin dalam bidang apapun. Hanya saja, kebolehan tidak identik dengan keharusan, namun tetap harus mendahulukan kepentingan perempuan itu sendiri, kepentingan keluarga, dan kepentingan masyarakat secara luas, sekaligus kepentingan Islam itu sendiri. Sehingga jika ada perempuan yang memiliki kapasitas yang mencolok dan istimewa, ia diperkenankan untuk memimpin bidang-bidang yang ia kuasai.


One response to “Muslimah Berpolitik, Haruskah?

  1. qolbi says:

    sepakat mbak….
    hanya saja, politik tidak selalu berarti harus terjun dalam partai politik, kan??
    mungkin lain kali ditambahin tulisan bagaimana praktek berpolitik nya para muslimah yang sesuai dengan syari’at??? atau peranan muslimah dalam partai politik??? atau muslimah dan parlemen???? atau yang lain2…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: