Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Pemuda, Bersahabat dengan Eksistensi

on February 15, 2008

Walaupun tidak ada acara KKN, kami juga tetap akan mengadakan acara pelantikan, acara rutin, 2 tahun sekali”. Begitulah detik-detik akhir rapat kami dengan pemuda. Saat itu, saya memang cukup sering berpendapat. Sebenarnya bukan merupakan bagian dari munculnya rasa eksistensi saya secara pribadi. Tapi, lebih dari sekedar itu, eksistensi menjaga idealisme kami selaku mahasiswa UGM dan seorang muslim. Yang pasti dalam pikiran saya saat itu, menjaga saja agar kami tidak terlibat dalam kemudharatan. Mencoba menawarkan kesederhanaan. Tidak berlebihan dalam memaknai moment. Terlebih lagi moment yang akan kami gabungkan adalah perpisahan. Dalam dataran idealisme kami, para mahasiswa KKN, acara perpisahan kami adalah sebuah moment penuh arti, mengakhiri kerja besar kami dan menyerahkan tugas pemberdayaan kepada masyarakat sendiri. Harapannya di acara tersebut, kami bisa menyuguhkan rasa simpatik kepada seluruh masyarakat yang telah dilibatkan. Bapak-bapak, ibu-ibu, pemuda, pemudi dan juga anak-anak. Menjaga eksistensi dengan sebuah alasan.

Bagi pemuda yang hadir saat itu, bisa jadi merasakan hal yang sama. Mereka punya kepentingan terhadap tradisi yang telah ada. Bahwa moment pergantian pengurus selalu ditutup dengan organ tunggal. Alasannya sederhana, ”karena ini adalah moment akhir bagi pengurus lama sehingga wajar jika diisi senang-senang”. Lagi, lagi, permasalahan eksistensi diri.

Pembicaraan tentang pemuda takkan pernah berhenti. Dunia penuh semangat, gelora hidup, idealisme dan keinginan besar ada pada pemuda. Kami para mahasiswa dan pemuda Derman tentu saja memiliki itu. Walaupun idealisme yang di bangun pun tentu saja beranekaragam. Sangat dipengaruhi pendidikan, karakter dan kondisi sosial masyarakat disekitarnya.

Satu hal lagi, bersikukuh dengan pendapat masing-masing lebih kental dikalangan pemuda. Walaupun orang tua yang seperti itu juga tidak sedikit. Saat merasa pendapatnya benar maka enggan untuk mendengarkan pendapat orang lain. Karena merasa itulah wujud eksistensi dirinya. Disinilah letak kedewasaan di uji. Seperti bunyi sebuah iklan ”tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. 


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: