Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Perempuan Rumahan_tentang seorang perempuan_

on February 15, 2008

Pakne…malem ini pulang jam berapa?” sambil menuangkan teh hangat ke dalam gelas, aku mengajukan pertanyaan yang sama dengan hari-hari sebelumnya. Dengan wajah penuh tanya, sedikit kegusaran dan sedikit harapan adanya jawaban yang berbeda dari hari sebelumnya. Jika jawabannya akan sama seperti kemarin, kemarinnya atau kemarinnya lagi “agak larut, banyak yang mengundang kenduri. Ada apa tho bune? lha…wis biasa tak tinggal kok yo..tako-tako[1] terus. Mengko nek wis rampung yo ndang bali[2]…”. Tanpa diminta, raut wajahku pun kontan akan menunjukkan nuansa seperti kemarin, kemarinnya dan kemarinnya lagi. Datar, tanpa ekpresi dan menyimpan begitu dalam ruang sepi.

Kalau suamiku telah benar-benar pergi, aku segera mengunci pintu depan dan belakang. Mengambil seblak[3], mengibaskannya di bale-bale[4] tempat biasa kami terbaring dan menghentikannya jika telah nampak benar-benar bersih. Setelah itu, Aku memposisikan diri berbaring di bale-bale, sambil tidur-tidur ayam karena masih Aku dengar suara alunan gending Jawa sayup-sayup dari radio dua band. Satu-satunya harta kami yang bersuara saat suamiku pergi. Kira-kira menjelang tengah malam, akan terdengar ketukan halus yang membangunkan tidur ayamku tadi. Secara refleks, aku bangkit dan membukakan pintu. Lalu menyembullah senyum lelaki itu dengan menjinjing beberapa sisir pisang raja, buah tangan rutin tanda terimakasih sang empunya hajat, karena kesediaan suamiku menikahkan anaknya. Dan dalam waktu bersamaan pula dia akan mengajukan pertanyaan yang persis sama “belum tidur bune?”.

Aku tak keberatan saja dengan kondisi ini. Sejak kecil aku memang terbiasa tidak membantah. Terlebih pada kedua orang tuaku. Setiap ada hal-hal yang ditugaskan kepadaku, maka akan segera Aku kerjakan. Tidak banyak tanya, apalagi mencoba untuk menghindar. Tidak pernah terlintas dalam benakku. Aku memang benar-benar penurut. Begitu pula saudara-saudaraku yang lain. Ayah ibuku mungkin merasa menjadi orang tua yang sangat disegani, diliputi perasaan senang karena tak ada bantahan sedikit pun. Atau justru heran karena mempunyai anak yang seolah tak punya keinginan. Tapi bukankah seharusnya demikian menjadi seorang anak? ”Sekali-kali janganlah Kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ”ah”…” atau ”Janganlah engkau membentak mereka dan ucapkanlah perkataan yang mulia”. Setidaknya hal itu yang senantiasa Aku ingat dari pengajian sore di langgar[5]. Walaupun Aku tak menemukan sifat ini pada anak keduaku. Selalu saja ada hal yang membuatku jengkel. Entah karena dia berkubang di bekas galian, yang katanya ada ikannya, atau memanjat pohon tinggi-tinggi sambil tertawa girang seolah dia memenangkan lomba panjat pinang dengan hadiah yang banyak, atau dia telah berhasil mengendap-endap dan kemudian berlari pontang-panting saat harus tidur siang. Semua dia lakukan tanpa pernah merasa bersalah. Walaupun Aku tak akan berhenti meluapkan amarahku karena kenakalannya. Bagiku, ”Anak ini benar-benar tak patuh..!

Kalau membicarakan usia perkawinan kami, tentu saja tak lagi disebut singkat. Kami bukan manten anyar[6]. Rambut-rambut kami pun sudah tak dapat mengingkarinya, sudah nampak warna-warna kelabu. Terlebih lagi kulit keriput yang membalut. Nyata. Telah dapat dipastikan, kami telah senja. Namun dunia ini, hanya milik berdua. Tak ada yang lain. Aku dan suamiku. Apalagi didalam kotak besar penuh tiang ini, lengang, hanya kami berdua. Kalau diukur dari serambi depan hingga sumur luasnya bisa jadi hampir setengah hektar. Ruang depan lebih tepat disebut lapangan, karena ruangan yang luas itu bisa untuk main bulu tangkis atau bersepeda hingga berkeringat. Biasanya kami gunakan untuk menaruh gabah saat musim panen. Selebihnya adalah ruangan bersekat-sekat yang berisi bale-bale yang akan berfungsi kalau anak-anak dan cucuku pulang saat liburan atau hari raya.

Semua telah berputar sesuai garis edarnya. Matahari akan menyembul diufuk barat dan tenggelam di timur. Bulan pun demikian akan menjadi agak membulat saat memasuki pertengahan bulan dan akan bulat utuh tepat di pertengahan bulan itu. Begitu sepanjang tahun. Hidupku pun demikian. Saat ketiga anakku masih bersekolah di desa ini, aku mempunyai kegiatan rutin. Kegiatan yang setidaknya menyibukkanku dan menyisakan rindu untuk melalui episode itu. Aktivitas Aku mulai dengan menyiapkan perbekalan anak-anakku di pagi hari, melepas kepergian mereka ke sekolah yang akan mencium tanganku dengan takzim dan menunggui mereka selepas dhuhur sepulang aku dari sawah. Begitu setiap hari, menyita seluruh kehidupanku bahkan kenanganku untuk melalui masa itu. Masa yang telah dipergilirkan di kehidupanku yang tak pernah mengenal siaran tunda.

Kini, anak-anakku sudah besar, sudah layak disebut orang dewasa. Putri pertamaku sudah menikah, dan kini tinggal diujung barat pulau jawa. Dua anakku yang lain tinggal di Yogyakarta. Anak keduaku telah menyelesaikan kuliahnya di universitas terkenal disana. Dia kini mengajar disebuah bimbingan belajar Islam katanya. Sedangkan si bungsu, juga ikut menyusul kuliah di Yogyakarta, universitas lainnya yang kata mereka juga terkenal. Yah..Aku percaya saja, karena memang aku tak tahu menahu soal itu. Maklum, walaupun Aku bisa membaca dan menulis, tapi pendidikanku tidak seperti mereka, Aku hanya tamat SMP (Sekolah Menengah Pertama). Ketiga anakku tentu saja jarang pulang. Kalau yang sudah menikah, wajar jika jarang pulang. Anaknya sudah hampir dua dan suaminya yang sering keluar kota sebagai tentara menjadikannya lebih sering dirumah. Terkadang memang dia pulang. Minimal saat lebaran, Aku bisa mendengar celoteh lucu cucuku. Kedua anakku yang lain, walaupun mereka belum bersuami, tapi kesempatan pulang pun sulit. Si bungsu, selalu saja ada kegiatan dikampusnya sedangkan putri keduaku, terkadang tidak bisa ijin mengajar atau ada aktivitas di asrama, katanya.

Aku memang perempuan biasa. Perempuan yang sama dengan perempuan desa lainnya. Setelah dewasa, aku langsung saja dinikahkan dengan pemuda pilihan orang tuaku. Pemuda desa tetangga. Tanpa kesempatan untuk berpikir menolaknya. “Dia pemuda baik, dan kamu sudah besar, pantas menikah” begitu yang disampaikan mereka saat itu. Walaupun saat dilamar, orang tuaku memang menanyakan kepadaku, mau atau tidak. Tetapi, secara halus mereka sangat meyakinkanku bahwa laki-laki itulah jodohku. Suka atau tidak suka. Itulah yang Aku sebut tanpa kesempatan untuk berpikir lagi.

Sejujurnya, Aku memang sungguh-sungguh menaruh hati padanya. Dia tegas dan cukup bertanggung jawab. Garis wajahnya menunjukkan dia orang yang keras dan tak surut dengan segala macam tantangan. Dibalik itu semua dia menyimpan kehalusan budi dan kekuatan maknawi yang dalam. Soal ibadah, bisa dikatakan dia adalah muslim yang taat. Hal itu pula yang mengantarkannya menjadi na’ib[7] di desa kami. Dia akan di cari banyak orang saat musim nikah tiba, guna untuk menyelesaikan masalah penggenapan dien pasangan-pasangan yang telah siap.

Aku kembali menjadi orang yang tak pernah diminta menurut saja dengan kondisi yang ada. Aku merasa menjadi orang yang sangat terancam, tapi tak mau melawan. Tercekat dalam sebuah lorong yang bernama kesendirian. Sendiri karena suamiku begitu menikmati dunianya yang tak pernah berubah dari tahun ke tahun. Sendiri, karena anak-anakku telah menemukan dunianya. Dunia yang mungkin pernah mereka impikan saat masih tidur dalam pelukanku. Aku tak mampu berbuat apa-apa, karena aku memang sejak kecil tak pernah membantah. Menerima saja dinas rutinku. Setelah shalat subuh, menjarang air dan merebus singkong untuk bekal ke sawah. Setelah matahari mulai menyembul, aku bergegas ke sawah dan akan pulang jika matahari sudah ingin menyinari bumi dengan sempurna. Selepas shalat dhuhur, menyiapkan makan siang dan dengan segera menyantapnya. Setelah matahari akan turun singgasana, baru aku kembali ke sawah meneruskan pekerjaan yang sempat di tunda dan mengakhirinya menjelang magrib. Selebihnya, waktuku, habis dirumah. Aku memang tak sendiri, suamiku pun tak luput dari rutinitas ini. Sepanjang hari, sepanjang bulan dan telah melewati beberapa tahun. Walaupun suamiku juga mempunyai dunianya sendiri.

Jika Aku sudah tak mampu menghalau kesepian yang datang menerpa, maka tubuhku pun segera berempati. Tangan dan kaki yang nyilu-nyilu. Kepala yang pusingnya berpindah-pindah, kadang di kanan, kadang dikiri. Ataupun demam yang tak kunjung usai, membuatku menggigil sepanjang malam. Kalau sudah seperti itu, Aku akan mengigau menyebut nama-nama anakku. Aku pun mengimbanginya dengan tak mau makan. Aku meminta suamiku untuk segera menghubungi anak-anakku untuk segera pulang. Dan akhirnya, disela-sela kesibukan mereka, terutama anak kedua dan bungsuku, menyempatkan pulang menjengukku. Demikian berulang kali terjadi. Alhasil, mereka secara bergantian mengunjungiku setiap bulannya.

Aku memang tak menginginkan anak-anakku gelisah dan khawatir dengan kondisiku. Tetapi, tanpa dikomando sedikit pun, tubuhku seolah tahu maksud hatiku. Suamiku pun telah terbiasa dengan keadaan itu. ”Ibumu kangen nduk, disempatkan pulang” begitulah kira-kira ucapan rutin untuk menghadirkan buah hati kami ke rumah. Mungkin kiranya, mereka telah memahami kondisi ibunya yang telah memasuki usia senja. Kesepian tanpa anak yang mendampinginya. Namun, mereka tak hanya diam menjadikanku semakin terlarut dengan kesepian. Beberapa kegiatan mereka tawarkan untuk mengisi hari-hariku yang melulu sama sepanjang hari. Dari pengajian dua kali sepekan di desaku, arisan atau pun pengajian di luar kecamatan kami. Mereka senantiasa membesarkan hatiku, bahwa Aku belum cukup senja. Masih banyak yang dapat ku lakukan. Bahkan cara mereka membesarkan hatiku, cukup menjadikanku tersenyum dengan sedikit bangga ”Dari sekian banyak ibu-ibu, tipe seperti ibulah yang seharusnya mendapat penghargaan lebih dari para suami. Karena justru dukungan istrinya akan lebih besar dan anak-anak akan lebih terpantau jika ibunya senantiasa di rumah. Waktunya tidak akan pernah tersita selain untuk kebahagian keluarga. Dan kesetiannya teruji, karena dapat begitu lama bersabar dengan hari-hari yang melulu sama.”. begitu kata mereka. Walaupun tak selalu demikian, Aku senantiasa berharap hari-hariku akan lebih penuh makna. Karena hal yang lebih utama, bagaimana Aku bisa mengoptimalkan seluruh waktuku, dengan segala rutinitas yang tak banyak warna.



[1] Bertanya-tanya

[2] Nanti kalau sudah selesai, ya segera pulang…

[3] Sapu lidi untuk membersihkan bale-bale

[4] dipan kayu yang biasanya beralaskan tikar untuk tidur

[5] Semacam mushola,

[6] Pengantin baru

[7] Penghulu


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: