Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Hari-Hari Bersejarah (sebuah email yang dikirim pasca perpisahan)

on February 17, 2008

Entah kenapa…hari ini, rasa penasaranku untuk membuka file-file kenangan begitu membuncah. Dan sampailah pada email ini…. semoga kawan-kawanku yang juga dikirimi masih bisa mengingatnya. Terlebih bagi yang mengirim…..

Hakikatnya kita tidak berpisah kan??

Hari-hari yang bersejarah

Hari-hari yang bersejarah itu akhirnya menemui peraduannya

Hari-hari yang telah memberi begitu banyak kesempatan

untuk menorehkan tinta kebaikan dalam pandangan-Nya

Yang dengan sabar telah merawat dan mengumpulkan potensi kebaikan yang terserak

satu demi satu . . .

dan menyingkirkan yang tak memberi arti bagi kemuliaan di sisi-Nya

Hari-hari yang dalam desahan nafasnya penuh dengan cinta,

persahabatan yang tulus dan mempesona

Juga pengorbanan yang selalu tersedia

Untuk kembali menorehkan senyum di sudut wajah saudaranya

Inilah yang membuat segalanya menjadi mudah

Walaupun tidak berarti menyelesaikan segala masalah

Tapi setidaknya ada ketenangan di saat pundak ini menahan beban yang berat

Bahwa selalu ada tangan yang siap membantu,

selalu ada pundak dan bahu sebagai tempat bersandar,

selalu ada telinga yang siap mendengarkan ,

dan juga selalu ada hati yang terbuka untuk ikut merasakan kesedihan,

dan juga kebahagiaan

Hingga kini . . . saat hari itu beranjak pergi

lahir penyesalan akan waktu yang terbuang percuma

Akan tenaga, perhatian dan waktu sisa yang diberikan

Dengan banyaknya prasangka dan perilaku yang tercela:

pandangan yang tajam, juga ucapan yang menyayat hati

Dulu . . . segala nikmat itu begitu tersamarkan

dan terkalahkan dengan kelemahan diri

yang selalu cepat menyalahkan

Bahkan melahirkan niat untuk melepaskan beban satu demi satu

Atau . . . malah ingin beranjak pergi dari jalan ini

Na’udzu billah . . .

Tapi . . . saat-saat seperti ini membuat pandangan

menjadi lebih jernih dan tajam

Yang mengungkap semua hakikat yang tak bisa dilihat

oleh mata yang tertutupi nafsu, oleh hati yang penuh dengki

dan semangat pengorbanan yang tidak tulus

Bahwa segala kekurangan yang ada tidak sebanding dengan nikmat yang diberikan

Bahkan saat ini, diri ini begitu takut dengan perpisahan

Dengan sekian banyak keindahan, cinta, dan waktu yang berharga

Di saat seperti ini saya tersadar dan memaksakan diri untuk menerimanya

Bahwa dunia ini adalah kumpulan peristiwa-peristiwa sesaat;

sebagaimana siang yang pasti berganti dengan malam

sebagaimana musim yang selalu hadir dengan warna yang berbeda

sebagaimana manusia yang selalu berganti generasi satu dengan yang lainnya

Itu pula yang saya sadari saat memaknai adanya perjumpaan

bahwa kelak pasti akan ada perpisahan . . .

Di sinilah puncak kesulitannya

Saat harus berpisah dengan sahabat-sahabat

yang selalu siap memberi saat dibutuhkan

Disinilah saya baru merasakan

getirnya makna kehilangan

Dan hari itu tentu takkan terlupakan

Hari di mana beban itu telah diletakkan kembali

dengan segala cacatnya . . .

dengan segala kekurangannya . . .

Tapi ada secercah harap

ke depan yang lebih baik

Saat beban itu dilanjutkan oleh orang yang tepat

Dan pelukan di hari itu

Pelukan yang takkan terlupakan

Dibanding pelukan lain yang telah begitu banyak dilakukan

Dada-dada itu memang bersentuhan

Yah . . . dada itu juga bersentuhan seperti sebelumnya

Tapi hati-hati itu . . . tak pernah sedekat itu

Saat kita bisa mengerti pesan-pesan yang tersampaikan

dari helaian nafas yang berat, dada yang bergemuruh

juga isak tangis yang tak tertahankan

”Maafkan aku saudaraku. Sungguh ku mencintaimu dengan sepenuh hatiku”.

Itulah bisikan hati yang tak tersampaikan

Tapi seakan-akan keduanya sudah saling memahami

Bahwa pelukan itu : bermakna saling menguatkan dan saling memaafkan

Tanpa kata-kata . . . tanpa suara . . .

Yah biar hati saja yang berbicara

Saat itu pula saya temukan sahabat-sahabat yang saya kenal

sebagai seorang yang tegar dan tenang,

tak bisa menahan air mata yang tertumpah

Di perpisahan ini saya baru tersadar

Akan begitu besarnya rasa kasih sayang saya kepada kalian semua

Begitu besar ruang di hati saya, yang tersedia untuk kalian

Dan begitu pedih saat saya tidak bisa mengutarakannya

dengan sepenuh hati kepada kalian

Dan di saat saya menyadari

Saya akan meninggalkan kalian atau

kalian yang meninggalkan saya

Entah, apa yang terjadi esok

Yang jelas kita akan sangat jarang bertemu

Setidaknya perpisahan ini hanyalah sementara

Dan semoga kecintaan kita terhadap da’wah

Akan mempertemukan kita kembali

Bahkan jika pun kematian yang memisahkan kita

Semoga kelak, Rabb terkasih mengumpulkan kita kembali

dalam surga-Nya . . .

Tempat terindah yang disediakan bagi para pencinta

Pencinta karena-Nya

Semoga . . . .

”Teman-teman akrab pada hari itu,

sebagiannya menjadi musuh bagi sebagian yang lain,

kecuali orang-orang yang bertaqwa”.

(Qs. Az-Zukhruf:67)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: