Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Insting Menyayangi

on February 17, 2008

Pernah melihat sapi melahirkan? Bagi saya, hal ini adalah pengalaman yang luar biasa. Setelah si pedet berhasil keluar. Secara refleks, si induk menjilati pedet, dan berusaha mendekatkan ambingnya ke mulut pedet. Saya memang tidak tahu apa yang dirasakan si induk. Mungkin saja dia sangat kelelahan, atau mungkin dia sangat bahagia. Tetapi, yang pasti saya menangkap ada insting menyayangi. Rasa sayang sang induk terhadap anak yang baru saja dilahirkannya. Jadi bagi saya, tepat sekali ungkapan “tidak ada induk yang tega memakan anaknya. Sekalipun induk macan.”. Seorang induk sapi punya insting ini. Menyayangi. Dan saya tersadarkan dengan tamsil yang nampak pada peristiwa kelahiran seekor pedet.

Terlebih jika memperhatikan hal tersebut pada manusia. Saya teringat saat menjenguk salah satu rekan kantor yang habis melahirkan. Dia begitu antusias menceritakan pengalaman menakjubkannya. Wajah sumringah, penuh senyum, semangat dan sembari diiringi dengan gerakan tangannya wujud sebuah ekspresi kesyukuran. Dan saya pun tahu pasti ada rasa lelah dan sedikit rasa sakit pada bekas jahitannya. Maklum, kami mengunjunginya sehari pasca melahirkan. Dia bertutur dengan terus di selingi ungkapan syukur pada Sang Khalik. Ketegangan saat menjelang kelahiran sang bayi sirna setelah melihat sang bayi berhasil keluar, dan terdengar tangisannya. Setelah diperdengarkan adzan dan iqomah. Si bayi didekatkan didadanya. Saat inilah dia merasakan kebahagiaan tiada tara. Telah menjadi ibu dan tiba-tiba saja timbul insting menyayangi. Tanpa pernah dipaksa, hadir dan memenuhi segenap jiwa.

Mungkin saja kita akan menyangkal kondisi tersebut. Bahwa ada kondisi yang tak semanis itu. Ada ibu yang membuang anaknya. Seperti yang sering ditunjukkan lewat layar kaca. Ataukah ada ibu yang sibuk diluar rumah tanpa pernah memberikan kebutuhan batiniah sang anak. Sibuk dengan aktivitasnya diluar rumah, karena alasan bekerja maupun sekedar aktualisasi diri. Ataupun kondisi tidak ideal lainnya. Bagi saya, tetap saja seorang ibu mempunyai insting menyayangi ini. Akan tetapi perwujudannya berbeda-beda. Sangat dipengaruhi kondisi psikologis dan sosiokultural masing-masing. Misalnya saja, ibu-ibu yang sibuk diluar rumah karena bekerja, bisa jadi keinginan menyayanginya diwujudkan dengan pemenuhan materi bagi anak-anaknya. Hal ini terjadi mungkin karena sebelumnya sang ibu, saat menjadi anak, tidak mendapatkan pemenuhan materi yang selayaknya. Dia merasa hal itulah yang membuat dia tidak bahagia, sehingga dia harus dapat mencukupi kebutuhan tersebut dengan bekerja. Mungkin juga ada seorang ibu yang sejak kecil mendapatkan tekanan psikologis dari keluarganya. Tidak pernah dapat menentukan pilihan dan orang tuanya begitu keras dalam membesarkannya. Dan yang terjadi sang ibu, sangat takut hal tersebut terjadi pada sang anak. Alhasil, si ibu tidak pernah melarang anaknya berbuat apapun. Sangat membebaskan bahkan hingga sang anak menjadi begitu bebas. Dia pun merasa, “ibu tidak melarang kok, berarti sah-sah saja”. Walaupun melakukan hal yang melanggar batas sekalipun. Lain lagi dengan kisah yang pernah saya dengar muncul di televisi. Ada seorang ibu yang membakar dirinya bersama sang anak yang masih berumur beberapa bulan. Dengan alasan apa? Kondisi ekonomi yang semakin hari kian buruk, menjadikan sang ibu gelisah dengan masa depan anaknya. Dia tak kuasa menanggung beban hidup tersebut. Dan tentu saja dia tak ingin sang anak mengalami kehidupan yang lebih sulit. Akhirnya kegelisahannya itu berakhir dengan 2 liter minyak tanah dan sebatang korek api. Dia membakar diri dan anaknya tersebut. Saya pun berpikir, bahwa hal ini terjadi bukan karena dia tidak punya insting menyayangi. Bukan. Tetapi justru sang ibu menunjukkan perwujudan kasih sayangnya. Walaupun mungkin masing-masing kita akan melontarkan kecaman dan pandangan lain yang kita sesuaikan pula dengan pemahaman masing-masing kita. Tentu saja seperti yang saya sampaikan di awal, dipengaruhi kondisi psikologis dan sosiokultural kita.

Insting menyayangi ini memang sepantasnya tidak kita ragukan ada pada seorang ibu. Akan tetapi, sebagai seorang ibu atau orang tua, yang kita butuhkan tidak saja insting menyayangi. Dalam wujud rasa menyayangi ini ada upaya untuk memberikan yang terbaik bagi yang di sayang tersebut. Terbaik versi kita mungkin berbeda dengan orang lain. Sehingga apa yang menurut kita baik belum tentu baik bagi dan menurut orang lain. Tetapi setidaknya kita punya keinginan agar yang kita sayangi mendapatkan hidup yang lebih baik dari kita. Kita lihat saja sapi yang baru melahirkan itu. Dia memberikan rasa tenang pada pedetnya yang baru saja dilahirkan dengan jilatannya dan juga segera memberikan kekuatan dengan susu dari ambing yang didekatkan ke mulut pedet tersebut. Sapi tidak pernah sekolah parenting. Tetapi, dia telah menunjukkan sebegitu besar rasa sayang dan tanggung jawabnya terhadap penghuni baru dunia ini. Dia berusaha memberikan yang terbaik bagi pedetnya. Memberikan kebutuhan pedet. Jilatan dan air susu. Saya sebenarnya tidak ingin menganalogikan dan menyamakan kondisi manusia dan pasien saya. Akan tetapi, kalaulah seekor sapi saja mampu berbuat demikian. Maka tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mengasah insting menyayangi dan berusaha berbuat yang terbaik bagi yang kita sayangi. Terlebih pada mahluk titipan Allah SWT. Anak.

Saat Teringat Moment Kelahiran yang Menakjubkan,

Ahad yang dingin, 17 Februari 2008, 07.45


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: