Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Mimpi…mimpi…

on March 12, 2008

Saya tidak ingin membicarakan mimpi dalam artian bunga tidur. Tapi, saya ingin membicarakan mimpi sebagai cita-cita atau keinginan yang dimiliki oleh tiap-tiap manusia. Yang dengannya kita menjadi hidup, bergairah, bersemangat, dan ingin hidup seribu tahun lagi…

Waktu kecil, mungkin kita sempat mempunyai cita-cita. Entahlah jadi pilot, dokter, tentara, guru, astronot atau apapun. Dimana masing-masing anak memilih cita-citanya disesuaikan dengan sesuatu yang mereka tangkap sebagai sebuah kehebatan yang melahirkan kekaguman. Alhasil, jika seorang anak bercita-cita menjadi dokter, bisa jadi dia sempat melihat figur dokter yang hebat, bisa menyembuhkan orang yang sakit dan sangat dibutuhkan oleh banyak orang. Baginya, hanya dokterlah yang paling berjasa. Tetapi, bisa jadi ini segera berubah saat dia bertemu dengan seorang guru. Tiba-tiba…dia menyatakan ingin menjadi guru karena melihat sosok gurunya sangat baik hati dan  menolongnya jika mengalami kesulitan dengan pelajarannya. Kita lihat saja dalam kisahnya Toto Chan, saat dia bersalaman dengan tukang penarik karcis di kereta, dia nyatakan dia ingin juga saat besar nanti menjadi penarik karcis di kereta dengan membawa kotaknya, mendatangi satu persatu penumpang, ini sungguh mengasyikkan katanya. Begitulah anak-anak bercita-cita. Karena dia senang, kagum dan mengganggapnya kalau menjadi yang dia ingin pastilah akan bahagia. Semuanya tentu saja terbentuk seiring dengan apa yang diajarkan orang terdekatnya, orang tuanya.

Setelah kita beranjak dewasa, masihkah kita punya mimpi? punya cita-cita? tentu saja! HARUS! Masing-masing kita harus punya mimpi kalau kita ingin menjadi berarti dan menikmati hidup. Tetapi apakah kita juga akan terus melanggengkan mimpi kita seperti dulu saat kanak-kanak? Akan segera berubah jika melihat ada sosok yang lebih baik untuk di tiru? Memilih cita-cita hanya untuk keasyikan tersendiri?

Dalam bermimpi, tentu saja sah-sah saja kita mau menjadi apa saja. Tetapi, ada hal yang prinsip dalam hal ini. Pertama, kalau kita berkeinginan untuk bermimpi itu bermanfaatkah bagi orang lain atau justru sebaliknya? Kedua, yakinkah kita bisa mencapainya dan Ketiga, apa saja yang telah kita persiapkan untuk dapat meraihnya, termasuk didalamnya ikhtiar dan doa.

Terhadap ketiga hal itu, tentu saja kita kembalikan kepada diri kita. Siapkah kita menjadi orang yang siap dikabulkan mimpi-mimpinya? Ataukah sebaliknya, kita hanya terus menerus terlelap dalam tidur dan hanya menikmatinya dalam tidur tersebut. Mengutip dari kata-kata seorang teman, “Tidak ada yang kebetulan di dunia ini. Semuanya harus di usahakan dan hanya Allah SWT tempat kita bergantung Atas segala kuasaNya” . Oleh sebab itu, jangan pernah takut bermimpi. Tetapi segeralah bangun untuk menjadikannya ada sebagai sebuah kenyataan.

Viidi, 12 Maret 2008

Mba Aan… sampai bertemu di Jerman..

di suatu waktu yang Allah SWT Ridha…

Amien…. 


One response to “Mimpi…mimpi…

  1. qolbi says:

    mbak nura… aq juga pernah nulis tentang ‘kuliah dan cita-cita’….

    aq yg tak pernah bermimpi jadi arsitek, tapi skrg harus terdampar di arsitektur…

    he2…

    http://qolbimuth.wordpress.com/2008/02/15/kuliah-dan-cita-cita/

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: