Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Merasai

on May 2, 2008

Saya cukup tertarik dengan sebuah email dari seorang sesepuh kami di kedokteran hewan yang saat ini beliau berdomisili di papua. Beliau sebenarnya hanya mengutip kata-kata seorang ustadz, ” Dalam menghadapi permasalahan jangan dimasukkan kepala semua, apalagi dimasukkan hati. Bikin berat. Kita harus belajar tidak menggunakan mental thinking, itu melelahkan. Kalo kata ustadz Cahyadi, jangan dirasakan. Dianalisa masalahnya lalu jalan keluarnya dikerjakan saja, lalu dievaluasi lalu diperbaiki lagi begitu terus. Merasakan itu butuh tenaga. Sayang kalo tenaga dibuang-buang untuk cuma merasakan-merasakan. Mending buat kerja. Empati bagus, tapi kita perlu empati yang rasional. bukan emosional.

Yup, sepakat sekali pak Widi dan Ustadz Cahyadi. Itulah merasai. Seberapa besarpun jiwa kita untuk terlarut dalam nuansa kehidupan yang kita jalani, tetap saja kita harus menjadikan diri kita tersadar, dengan sesadar-sadarnya. Kita memang di beri daya cipta, rasa dan karsa untuk melengkapi diri kita dalam menghikmahi hidup. Bukan untuk dimatikan, tetapi untuk dimanfaatkan sebaik-baiknya. Sekali-kali… kita memang bolehlah merasa sedih, kecewa, pesimis dan merasai hal yang tak menarik lainnya atas sebuah kejadian. Tetapi, kita cukup punya rasa gembira, senang, optimis dan segala hal yang menarik, serta menjadikan kita lupa… juga…lupa klo kita pernah sedih, dan pernah kecewa. Tapi, kesemuanya akan silih berganti… dan wajar mengalir seirama desahan nafas kita. Jadi, bersyukur saja masih bisa merasai. Tapi, yang jelas, yang kita punya tidak hanya merasai saja.


2 responses to “Merasai

  1. junda says:

    mungkin lebih baik jika pesan itu dirangkum dengan sebuah kaidah besar yaitu
    “segala yang berlebihan itu tidak baik….”
    karena sampai saat ini junda masih berpegang bahwa dalam hidup ini rasa memiliki peran penting termasuk juga dalam bekerja… itu yang membedakan manusia dengan robot bukan?
    masih ingat bukan sebuah hipotesa yang pernah junda sampaikan :
    “kata kadang tak mampu mewakili makna tapi rasa senantiasa setia mendampinginya”

  2. nuramaya says:

    he…he… yah..terkadang kata tak mampu mewakili makna. Sepakat!Seperti maksudku adalah kita tak perlu berlebihan menikmati rasa itu, hingga kalau senang ya..inget dikala sedih dan saat sedih gak berlarut-larut menjadi sedih karena kita harus ingat dulu pernah mengalami senang. yah..mungkin demikian,, sehingga saat kita sulit kita bisa bertahan dan keluar dari kesulitan itu…. Begitu Pak Junda Aulia….:-)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: