Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Nasib Pendidikan di Negriku

on May 2, 2008

Hari ini tanggal 2 Mei 2008, bertepatan dengan yang katanya hari pendidikan. Sebelum berangkat ke kantor, adik-adik di kontrakan saya pun menyampaikan bahwa mereka akan aksi hari ini bersama seluruh BEM se-UGM di komandoi BEM KM UGM. “Kami ingin memuhasabahi nasib pendidikan di negri kita, menanyakan tanggung jawab pemerintah atas pendidikan rakyat kita”. Saat itu, saya hanya sekilas memberikan suport, “Selamat Berjuang!”.

Sewaktu saya ke lapangan bersama rekan-rekan kantor untuk menangani adanya kasus kematian unggas di daerah Baciro, sempat melewati kantor pos Besar. Kami melihat, puluhan polisi sudah duduk-duduk menunggu di depan Istana Negara. Setelah melewati hotel Limaran, kami pun berpapasan dengan puluhan mahasiswa berbaris sepanjang jalan yang nampaknya ke arah kantor pos Besar pula. Longmarch mahasiswa, yang entah, dari almamater apa karena tak semua berjas almamater, hanya beberapa berjas almamater hijau, kebanyakan berkaos hitam dan ada yang merah. Spanduknya pun saya merasa tak kenal, tak ada yang saya kenali sebagai adik saya di kontrakan. Tetapi masih sama dengan aksi-aksi sebelumnya yang pernah saya liat ataupun saya ikuti sewaktu mahasiswa, menyanyikan lagu-lagu perjuangan mahasiswa tahun 1998. yah..sama..tapi jelas nuansanya berbeda dengan yang saya rasakan dulu.

Tetapi saya yakin, walaupun mereka tidak berasal dari almamater yang sama, ataupun organisasi yang sama pula, tetap saja mereka memanfaatkan moment yang sama, Hari Pendidikan. Dan tentu saja mempertanyakan nasib pendidikan di negri kita. Wajah pendidikan yang dari hari ke hari tidak menjadikan kita menjadi masyarakat yang cerdas. Catatan buta aksara yang masih saja ada, anak-anak yang putus sekolah, biaya pendidikan yang semakin melambung, dan hal inipun yang menjadikan kondisi buruk sektor yang lain. seperti: kurangnya tingkat pendidikan menjadikan beberapa warga masyarakat tidak memperhatikan kondisi kesehatan lingkungannya. Rumah bercampur dengan kandang ternak, membuang bangkai unggas ke kali. Bahkan yang saya alami dalam pendampingan masyakarat peternak di Bantul, karena problem pendidikan ini, beberapa peternak enggan kambingnya di suntik dengan alasan takut mati, padahal kondisinya harus segera ditangani secara medis.

Bisa jadi, kondisi ini oleh sebagian masyarakat dicarikan alibi bahwa hal ini disebabkan biaya pendidikan mahal, untuk makan saja sulit apalagi untuk sekolah? Jadilah kebutuhan akan pendidikan menjadi kebutuhan sekunder bahkan tersier. Perhatian terhadap pentingnya pendidikan pun ternyata tergilas dengan gaya hidup konsumtif yang kian merajalela di negri kita. Saya berani mengatakan, terkadang bukannya tidak ada dana untuk pendidikan, tetapi kepentingan pendidikan terkalahkan dengan pemenuhan kebutuhan yang seharusnya menjadi prioritas yang kesekian, seperti barang-barang elektronik, handphone, televisi dan lainnya. Setiap ada merk baru, maka tak ada pikir panjang untuk mengikuti trend terbaru. Alhasil, masyarakat kita menjadi bangsa yang konsumtif dan pemuja kapitalisme tanpa pernah mau beranjak dari jurang kebodohan.

Terkadang saya pun menjadi mandeg inisiatif, karena realitas ini sungguh ironis. Saat kita yang katanya punya negri penuh dengan kekayaannya tapi, hingga detik ini kita pun tak bisa merata merasai begitu gemah ripah loh jinawinya negri kita. Dan yang sangat disayangkan… Penghuni negri ini tak sadar, bahwa kita belum merdeka. Menyedihkan! Untuk kesekian kalinya, kita memperingati hari pendidikan, dan hal yang terjadi sama, matinya pendidikan. Mungkin bisa jadi lebih tepatnya hari ini diperingati sebagai ulang tahun kematian. Kematian Pendidikan di negri kita.

Namun, Allah SWT telah menegaskan dalam firmanNya, Bahwa Allah SWT tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali mereka mengusahakannya. Dan Allah pun telah berjanji bahwa bagi orang yang berilmu akan diberikan tempat yang lebih tinggi beberapa derajat. Mereka pun ada, yakni orang yang senantiasa terus mengusahakan pendidikan di negri kita. Para guru di daerah, yang harus menempuh perjalanan berkilo-kilo meter, untuk mengajar anak negri yang jauh dari kemajuan ibukota. Atau para sukarelawan yang telah membangun sekolah-sekolah bagi masyarakat yang tak punya biaya (seperti yang telah di lakukan mas Eko Prasetyo, pengarang buku “Orang Miskin di Larang Sekolah”). Atau LSM yang telah memfasilitasi sekolah bagi kaum ibu (LSM Sahabat Ibu, yang membentuk Sekolah Ibu di Tempel, Sleman). Dan mungkin masih banyak lagi lainnya yang telah melakukan sumbangsih bagi kemajuan pendidikan di negri kita. Ditangan orang-orang yang tergerak untuk terus mencerdaskan masyarakat negri inilah, pendidikan kita akan hidup kembali. Akankah kita termasuk menjadi bagian dari yang tergerak ini??


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: