Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Remaja, dititik ini Engkau menjadi….

on October 14, 2008

Siang ini, bus yang saya tumpangi sepulang kerja penuh sesak. Aroma keringat penumpang yang menyengat, dan debu dari jalanan membaur jadi satu. Ah…kontan cairan dari hidung saya mengalir deras. Manifestasi dari alergi saya terhadap debu ataupun bebauan yang lain. Dan ini lebih saya nikmati dari pada hidung yang buntu hingga mengganggu suplai oksigen ke otak dan saya sulit bernafas. Yah…siang ini membuat kepala berkunang-kunang.

Beberapa menit kemudian, setelah saya bisa menguasai diri, pandangan saya beralih ke belakang. Terlihat beberapa gadis berseragam abu-abu berdiri bersesakan sambil tertawa cekikikan. Mereka menimpali olok-olokan temannya yang berseragam abu-abu pula, laki-laki. Saat itu yang terdengar di indra pendengaran saya adalah suasana yang sangat ribut tanpa jelas apa yang dibicarakan. Alhamdulillah, setelah melewati perempatan pertama, ternyata banyak penumpang yang turun, sebagian dari pelajar yang memenuhi bus tadi. Akhirnya, saya bisa duduk. Disamping saya gadis kecil berseragam biru putih terduduk lesu. Wajahnya menggores kekesalan yang nyata. Cemberut dan jengkel. Mungkin dia juga menahan haus, lapar dan juga gerah. Tapi, saya mencoba mengurai senyum kepadanya. Sedikit berbagi bahwa ada yang tak menyebalkan di siang terik ini. 🙂

Saya kembali tersadar dengan kondisi yang lain. Gadis-gadis yang berseragam abu-abu putih itu ternyata juga dapat tempat duduk. Walaupun masih saja ada yang berdiri berdesakan dengan pemuda-pemuda kecil yang juga berseragam abu-abu (maaf, saya menganggapnya pemuda kecil karena memang mereka belum pantas disebut pemuda). Salah satu dari gadis yang telah duduk menawarkan untuk duduk ke gadis abu-abu yang berdiri dengan bahasa jawa, ”Iki loh Rin (saya mendengarkan begitu, entah Rini or Rina) ono sing kosong lungguh-o”. Dengan gaya kenesnya sampai menatap mesra teman pemuda kecil itu dia menolak secara halus ”ora sah, maturnuwun, diluk engkas mudun”, maksudnya dia beralasan bahwa sebentar lagi turun. Saya pun, yang terbiasa mengamati, tak melewatkan moment itu, kurang kerjaan memang, tapi, nyatanya kening saya menjadi berkerut.. setelah mendengarkan komentar gadis-gadis itu disertai riuhan yang ramai sekali…sampai-sampai kernet (kondektur) bus kota ikut-ikutan nimbrung. ”walah…ngadhek yo rapopo…sing penting cedhak yang-e” (berdiri juga gak apa, asalkan dekat pacarnya). Ups…ternyata anak seragam abu-abu putih ini pun juga kreatif.. Bis kota pun, yang begitu panas, dengan debu jalanan dan asap kendaraan (seperti sajaknya Widuri untuk Joki Tobing) menjadi begitu asyiknya hingga tak memperhatikan semua mata menatapnya dan minimal rasa malu pun tak ada.

Duh…. saya jadi teringat bait pertama sajaknya Rendra, Megatruh, ”oh…akal sehat jaman ini!”. Gadis kecil dan pemuda kecil berseragam abu-abu saja berani terang-terangan pacaran di bus kota. Pikiran saya pun sedikit mencakrawala, lalu…gimana kalau tidak di depan umum, apa yang mereka lakukan? Duh Gusti.. padahal ini bukan kali pertama saya menyaksikan hal seperti ini, bahkan mungkin lebih jauh, tapi saya sungguh-sungguh miris melihatnya… mau jadi apa mereka, jika sekolah pun kisah cinta klasik saja yang ingin di ukirkan? ”ah..kami kan masih muda, belum ada tanggungan, nanti saja jika sudah jadi mahasiswa, bisa lebih baik.” mm…semoga demikian. Namun, fakta ternyata berbicara lain. Masa remaja ternyata menjadi penentu akan menjadi apakah kita. Kebiasaan jujur misalnya, sangat ditentukan pendidikan kita sejak kecil yang tentu saja diterapkan secara bertanggung jawab saat kita remaja. Sedikit demi sedikit orang tua, memberi kepercayaan kepada anak remajanya untuk mengelola keuangannya, yang dulu diberi uang saku setiap hari, setelah remaja uang saku terkadang diberikan tiga hari sekali, sepekan, dua pekanan atau bahkan telah digunakan sistem bulanan jika anak tersebut harus pisah dengan orang tua, tinggal di pondok pesantren atau kos-kosan. Dan terkadang ada yang membebaskan, tetapi senantiasa diaudit penggunaan uang tersebut.

Katanya, kehidupan yang paling menyenangkan adalah masa berseragam abu-abu. Sampai-sampai salah seorang adik tingkat saya, mengeluh saat awal-awal kuliah, katanya pingin balik ke SMU aja, enak, gak ada beban dan banyak temennya. Benarkah demikian? Mungkin saja iya. Saya pun waktu SMU juga merasakan begitu menyenangkannya hidup karena waktu itu saya juga punya geng (yang kemana-mana bareng). Mau ke kantin, perpustakaan, masjid, atau jalan-jalan kemanapun bareng-bareng temen. Mengerjakan tugas pun seringnya kelompok. Jadi, hidup menjadi wajar kalau indah, semua masih ditanggung bersama-sama. Walaupun memang banyak isinya senang-senang. Tapi, saya kembali menyoroti hal yang lain, ada kesempatan emas di masa remaja ini. Yakni menabung karya untuk kehidupan kita nantinya. Kita masih tak ada beban, baik salah atau benar, enjoy aja, maka daya kreativitas kita pun takkan terhambat. Oleh sebab itu, tak ada waktu untuk menyiakannya. Masa remaja, adalah waktu untuk kita menjadi…menjadi apapun kita…


One response to “Remaja, dititik ini Engkau menjadi….

  1. umer says:

    bener juga memang masa sma adlh masa yg menyenangkan
    mempunyai bnyk tmn
    tetapi seiring dgn bertambahx usia
    sya pun sadar sya sdh diberi tanggungan
    tdk sprt dulu lagi
    yah smga sya bsa mberi yg terbaik untk ortu sya
    amien
    =D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: