Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Tes CPNS, Berburu Rizki Halal?

on October 14, 2008

Setiap tahunnya, jika memasuki bulan-bulan akhir, media cetak dan elektronik di banjiri iklan lowongan tes CPNS (Calon Pegawai Negri Sipil). Entahlah dari Pemerintah Daerah (PEMDA), Departemen (DepHut, DepTan, DepLu, DepHan, DepKes, DepKeu, dll), Badan Usaha Milik Negara (Pertamina, Pupuk Kaltim, dll) atau instansi pemerintah lainnya seperti Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM). Ada juga rekruitmen CPNS khusus sebagai tenaga pendidik misalnya rekruitmen dosen di perguruan tinggi negri maupun guru di sekolah negri. Hampir tiap tahunnya dilakukan rekruitmen besar-besaran di instansi-instansi tersebut. Hal ini tentu saja tak berimbang dengan begitu banyaknya lulusan perguruan tinggi tiap tahunnya. Belum lagi lulusan Sekolah Menengah Atas yang langsung ingin bekerja karena tak mampu melanjutkan ke perguruan tinggi karena faktor biaya. Atau bahkan anak putus sekolah yang hanya sampai Sekolah Dasar (SD) atau Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Alhasil, pak RT, RW, Lurah, dan Camat ikut disibukkan dengan moment ini. Bahkan di kantor kepolisian dan Dinas Tenaga kerja pun, ramai di padati calon pelamar CPNS seperti menunggu antrian sembako menjelang idul fitri. Hal ini dikarenakan hampir semua instansi ini mensyaratkan adanya kelengkapan Surat Keterangan Catatan Kepolisian (SKCK) atau sering di sebut Surat Kelakuan Baik (yang sering jadi guyonan beberapa orang, bahwa penduduk Indonesia yang tidak jadi pegawai negri atau tidak pernah minta dibuatkan SKCK kelakuannya dinilai tidak baik 🙂 ). Selain itu, juga surat Asli Tanda Pencari Kerja dari Dinas Tenaga Kerja. Belum jadi pegawai negri saja dan bahkan calon pns saja sudah begitu ribetnya prosedur. Jawabannya ya cuma klise, ”cari kerja memang sulit”. Karena semua orang berkeinginan untuk bekerja atau ikut bekerja tidak mengupayakan menciptakan pekerjaan. Jawabannya lagi-lagi, sulit, atau mungkin berhenti pada kata: ”tidak ada ide” atau ”tidak berani menanggung resiko” ditambah jawaban yang katanya lebih menguatkan, ”kita harus segera hidup lebih teratur dengan berkeluarga, kalau tak segera mapan (tentu saja versi kebanyakan orang, gaji tetap, dan pekerjaan ringan, red_pns) kapan segera menggenapkan dien?” atau yang sedikit diplomatis, ”Sudah saatnya ada orang baik diinstansi pemerintah, siapa lagi kalau bukan kita?” Upss…yah semoga demikian.

PNS. Kalau rekan saya yang juga diterima sebagai CPNS tahun kemarin di salah satu BUMN membuat kepanjangan PNS dengan istilahnya sendiri, Pegawai Nyaman Sekali atau Pegawai Nikmat Sekali. Atau mungkin ada istilah lainnya. Tapi memang nyatanya, dengan gaji yang setiap awal bulan, tanggal 1, 2 atau mungkin 3 (karena harus terbentur hari libur) dibayarkan, menjadikan pekerjaan sebagai PNS menjadi prioritas utama beberapa orang sebagai pekerjaan yang harus di kejar. Bahkan nenek saya yang telah mengawali hidup sebelum ada istilah PNS diluncurkan, sempat bertanya waktu lebaran kemarin, ”nduk, saiki wis kerjo ne dibayar pemerintah?” maksudnya adalah apakah saya juga di gaji pemerintah? Saya waktu itu pun hanya bilang ”inggih mbah” sambil mengulum senyum. Mm…ternyata beliau saja yang tak tahu apa itu PNS tetap berkeyakinan bahwa pemerintah punya pegawai yang gajinya dibayarkan tiap bulannya. Hal itu beliau perjelas dengan kata-kata, ”yo alhamdulillah wis bayaran, kan kepenak rutin tiap sasi”. Lagi-lagi saya cuma mengulum senyum. Oh, ternyata….

Dari sejak kuliah hingga sekarang tetap saja pikiran saya tentang pekerjaan tak berubah, yah..mungkin sedikit lebih realistis terhadap keadaan. Bagi saya, apapun pekerjaannya entahlah pegawai negri, pegawai swasta, penulis, tukang koran, tukang becak, pedagang maupun lainnya. Semuanya tak masalah, yang harus menjadi pondasi kita adalah apakah ini pekerjaan halal, dan diniatkan untuk kebaikan? Setiap manusia memang sudah selayaknya memburu rizkinya masing-masing. Tapi, apakah niat dan prosedurnya sudah benar? Terlebih jika harta yang didapat dari bekerja digunakan untuk menghidupi keluarga. Karena cukuplah jelas disampaikan dalam Hadist Riwayat Tirmidzi ”Setiap daging (bagian tubuh) yang tumbuh dari barang yang haram, maka api nerakalah jadinya”. Oleh sebab itu, harta atau makanan yang kita konsumsi di keluarga kita tak hanya halal secara zatnya tetapi harus halal pula dalam mendapatkannya. Adapun harta atau makanan yang harus kita hindari karena masuk kategori haram dalam mendapatkannya adalah:

Makanan dan atau harta dari hasil mencuri.

     Mencuri yang dimaksud adalah mengambil atau memanfaatkan sesuatu tanpa seijin pemilik yang sah. Diantara hal tersebut, antara lain: makanan yang halal secara dzatnya, tetapi hasil mencuri. Mencicipi buah/makanan tanpa minta ijin penjualnya saat berada di kios/warung.

Makanan dan atau harta dari hasil berjudi.

     Dalam hal ini, makanan atau harta hasil judi yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dihasilkan dari membeli impian akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dengan pengorbanan yang kecil. Diantaranya yang termasuk kategori judi adalah: Toto gelap (togel), judi totor, judi kartu, dan lain-lain. Judi melalui SMS di televisi. Judi melalui sepeda gembira. Judi melalui kuis, sayembara, kupon berhadiah, dan lain-lain.

Makanan/harta dari hasil riba

    Makanan/harta dari hasil riba atau segala jual beli yang tidak jelas (ghoror), berpotensi membuat kecewa dan menimbulkan konflik dibelakang hari adalah haram hukumnya. Diantaranya yang sering terjadi dalam keseharian adalah: memanfaatkan bunga bank, jual beli sesuatu yang tidak jelas spesifikasinya (misalnya Jual beli ketela, tetapi ketelanya masih di dalam tanah, atau jual beli anak hewan/ternak yang masih dalam kandungan), sistem ijon (pembelian padi sebelum masak dan diambil setelah masak).

Makanan/harta dari hasil korupsi.

     Dalam hal ini yang termasuk didalamnya adalah segala makanan/harta yang diperoleh dengan mengambil hak (properti) masyarakat untuk kepentingan pribadi.

Makanan/harta dari hasil jual beli barang haram.

     Uang dari hasil jual beli Miras (minuman keras), Narkoba, dan lain-lain.

     Uang dari hasil jual beli babi, daging bangkai, dan lain-lain.

Makanan/harta dari hasil suap menyuap.

     Menyuap diartikan sebagai memberikan sesuatu (uang dan atau benda) kepada penguasa agar urusan menjadi lancar. Hal ini sering terjadi dalam permasalahan hukum, misalnya pejabat yang bersalah dapat menjadi tidak bersalah karena menyuap, atau beberapa profesi yang lain, misalnya bisa menjadi pegawai jika telah membayar sekian rupiah.

Lagi-lagi, saya mungkin hanya mengatakan, rizki yang halalkah yang kita kejar? Baik PNS atau apapun pekerjaannya, hukumnya tetap sama ”cari yang halal”, jauhi yang subhat (tidak jelas), terlebih lagi yang haram. Jangan pernah terlintas di pikiran kita untuk memasukkan sebutir nasi pun yang haram ke dalam mulut kita dan keluarga kita. Setiap manusia telah mempunyai bagiannya sendiri-sendiri atas rizki dan kesemuanya tidak pernah tertukar. Wallahu’alam bishowab.

 

 

Pagi yang hening, 14 Oktober 2008

Untuk sahabat-sahabatku

yang masih saja berkelana

Istiqomahlah!!!!


6 responses to “Tes CPNS, Berburu Rizki Halal?

  1. food4healthy says:

    apapun profesinya, yang paling penting komit dengan tugas dan tanggung jawabnya, pasti deh gak bakalan jadi syubhat rejeki yang didapat…
    sip kan.. :p
    Tapi emang, perlu koreksi total terutama dari sisi manajemen, karena tidak semua PNS yang tidak bekerja itu karena malas, tapi bisa jadi karena memang tidak ada hal yang perlu dikerjakan, jadi kerjaanya yang hanya maen game.. atau kalau ndak yang maen internet-an kayak begini ini :d
    wah, perlu belajar lebih banyak lagi neh.
    Ok,
    Salam Hormat

  2. yuari says:

    bu nura pernah berkunjung kesini..kawan lama…kemaren saya mampir kesitu…http://dunia-esfand.blogspot.com/

  3. junda says:

    junda mendapat email spt ini :

    prinsip jual beli dalam islam begini. Misalnya A membeli kopi curian
    dari B, dan A membuatkan kopi ketika C bertamu, C tahu bahwa kopi yang
    disuguhkan A itu curian, tapi kopi itu halal untuk C, karena proses yang
    dihitung dalam Islam hanya satu level, dimana hubungan C hanyalah dengan A.
    Masalah itu kopi curian atau bukan itu urusan A. Hanya A yang menanggung
    dosa, C tidak ikut berdosa.

    karena terkait halal dan haram menurut pendapat nura spt apa?atau bisa sebagi bahan tulisan berikutnya

  4. nuramaya says:

    Junda, kalau pendapat saya ttg ini, buat C, mmg hukum barangnya halal, tapi jika sudah tahu maka sebaiknya dihindari. Lain lagi jika kita tidak tahu maka mmg tidak apa2. jadi, kehati2an tidak hanya, supaya kita aman, tapi, bagaimana lingkungan juga terkondisikan dengan yang halal. kok bisa ada kemungkaran dari B diketahui A dan C kok diem saja… coba jika semua boikot, tidak mau membeli curiannya B, kan… akan sulit laju kemungkarannya… begitu menurut saya…. urusan halal bukan saja berhenti pada fiqih personal, pake mahzab sapa, tapi ini penting untuk bermuamalah bagi “manusia” yang akan dicontoh…
    wallahu’alam.afwan…

  5. SUPER says:

    rizki itu sudah diatur oleh ALLAH,,
    tinggal kita yg berikthiar atau berusaha menjemputnya

    coba lihat kucing makanannya ikan padahal kucing takut air
    tapi kucing tidak punah kan..?? (bisa makan)

    cicak makanannya nyamuk padahal cicak ga bisa terbang untuk tangkep nyamuk,,
    tapi buktinya cicak masih ada di muka bumi tidak punah…

    itulah bukti bahwa rizki itu sudah ada yg ngatur..
    namun demikian tentu saja cicak atau kucing tersebut harus berusaha menangkap makanannya…

    begitu juga dengan manusia,, rizki sudah ada yg ngatur atau bisa jadi ada didepan mata,, tapi jika kita tidak mengambil peluang itu maka sama saja…
    jadi kita juga sebagai manusia harus beriktiar,,
    jemput rizki,,

    salam super
    dapatkan wawasan dan koleksi ratusan produk
    di uangsuper
    klik link afiliasi saya..

  6. QOLBIY says:

    mbak nura….
    BUMN nggak sama dengan PNS.
    sumber pendapatan lain, proses rekruitmen juga gak sama.
    kalo masalah tugas dan kewajiban, tergantung di perusahaan BUMN mana. pertamina, PLN, Bank, ataupun kontraktor, masing-masing beda. gaji nya juga beda. heheheheuuuuuu…..

    kalo PNS, memang digaji dari APBN/APBD. jadi murni dari pajak masyarakat (rakyat).
    tapi kalau pegawai BUMN, digaji dari profit perusahaan. bahkan perusahaan BUMN yang nyumbang uang buat negara. sama sekali tidak ambil dari pajak.

    jadi….pegawai BUMN menurutku tidak sama dengan PNS. tuntutan kerjanya juga lebih berat, karena persaingan dengan swasta semakin gencar (apalagi kalo BUMN yang ‘tidak strategis’).

    but….anyway…. akhirnya aku sudah merasakan tes di BUMN dan juga tes CPNS.
    kalo tes BUMN, dapet snack, makan siang. kalo tes CPNS, memang harus rela ribet-suribet. heheheuuuu

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: