Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Dimanakah Seorang Perempuan Menempatkan Cita-citanya?

on February 16, 2009

Perbincangan saya semalam via handphone dengan seorang akhwat cukup menggelitik saya untuk berbagi. Pertanyaannya adalah: “Dimanakah seorang perempuan menempatkan cita-citanya setelah menikah?” Semalam, seperti biasanya, jika saya berbincang dengannya, saya akan tersenyum dan mendengarkan kelanjutan ceritanya, karena terkadang dia memang tak membutuhkan jawaban. Tapi, setelah saya renungkan, pertanyaan ini perlu kita diskusikan. Bisa jadi bermula dari pertanyaan inilah, seorang akhwat enggan menikah, karena takut eksistensi dirinya terhambat, takut tak diberi ruang oleh suaminya kelak. Ataukah, justru bagi ikhwan, menjadikan mundur teratur karena takut tak bisa memimpin seorang istri yang bisa jadi, menurut pandangannya punya cita-cita dan karakter diri melebihi dirinya.

Semalam saya memang tak menjawabnya dengan lugas. Saya lebih banyak mendengarkannya. Jawaban dari pertanyaan ini telah mengajak kita berpikir untuk memahami kembali hakekat pernikahan. Pernikahan itu, mengumpulkan dua pribadi untuk membentuk sebuah keluarga. Bahkan mengumpulkan dua keluarga untuk membentuk sebuah keluarga yang lebih besar lagi. Tentu saja, bagi seorang muslim, dua pribadi itu adalah pribadi yang telah terbentuk sakhsiyah islamiyah (kepribadian muslim) karena keluarga yang akan dibentuk adalah keluarga yang sakinah, mawaddah wa rahmah. Saya yakin, setiap kita jika telah memutuskan untuk menikah, menginginkan keluarga yang dibentuk adalah keluarga yang memenuhi ketiga hal itu (sakinah, mawaddah, wa rahmah). Ini jika kita membicarakan tujuan atau orientasi hasil. Kalau membicarakan bagaimana kita meraihnya? Kita akan kembali kepada tuntunan kita, Al Qur’an dan As Sunnah. Selebihnya, jika tidak diatur, maka itu menjadi kesepakatan bersama. Misalnya: terkait tempat tinggal, pembagian tugas didalam keluarga, tempat anak-anak harus mendapatkan pendidikan, dan juga terkait penempatan cita-cita seorang akhwat setelah menikah, bagi saya ini sebuah hal yang dapat dibicarakan, artinya masuk kategori fleksibel.

Apakah setelah menikah seorang akhwat tak boleh punya cita-cita? Misalnya kuliah lebih tinggi lagi, karena tuntutan ditempat kerja (bagi dosen atau PNS Departemen) ataukah senantiasa terus mengembangkan usahanya, menjadi usahawati yang berhasil, atau menjadi tokoh, dengan jam terbang yang sangat padat. Menurut saya, boleh-boleh saja asalkan, tugasnya sebagai seorang istri dan ibu dapat tertunaikan. Seorang akhwat, setelah menikah bukan lagi menempatkan posisinya sebagai seorang perempuan biasa, tapi dia telah punya peran baru sebagai istri dan ibu. Dia nantinya akan mengandung, melahirkan dan punya kewajiban menjadi madrasah pertama bagi anak-anaknya. Sedangkan seorang ikhwan, setelah menikah, dia telah menyambut perannya sebagai kepala keluarga, suami dan ayah bagi anak-anaknya. Dalam peran ini, seorang laki-laki punya tanggung jawab memenuhi kebutuhan keluarganya dan menjadi pendidik utama istri dan anak-anaknya. Dua hal ini, saling melengkapi, bagimana seorang istri bisa menjadi motivator suami dan suami tak membiarkan istrinya mandeg untuk mengembangkan potensinya (termasuk dalam hal cita-cita). Oleh sebab itu, wajarlah jika kita perlu menyadari begitu indahnya syariat menikah.

Saya berpendapat bahwa janganlah kita melandasi diri kita yang akan menikah dengan ketakutan-ketakutan yang belum tentu terjadi. Kata seorang sahabat, jangan sampai kita mendahului takdir. Senantiasa membayangi diri kita dengan ketakutan kita sendiri. Akan tetapi, seharusnya kita membekali diri kita sebelum menikah dengan niat yang ikhlas, bahwa semata-mata kita menikah hanya menggapai ridha Allah. Allah pasti akan memudahkan jalan orang-orang yang ingin menggenapkan dienNya. Terkait dengan jalannya pernikahan nantinya, dapat dikomunikasikan dalam keluarga tersebut. Memecahkan kesulitan hidup sendiri saja, seringkali kita mampu melewatinya, apalagi jika melewatinya berdua. Wallahu’alam bishowab.

Pagi yang hening, 16 Februari 2009

Untuk Jiwa yang Gelisah

Kembalilah Pada Dzat Penggenggam Hati


12 responses to “Dimanakah Seorang Perempuan Menempatkan Cita-citanya?

  1. win says:

    aku yakin setiap kita-ikhwan/akhwat-sudah memahami apa dan bagaimana pernikahan, cuman bisa jadi kita belum sepenuhnya pintar membuat formula bagaimana pemahaman itu kita sandingkan dengan tuntutan zaman. Keshalihan pribadi dan keshalihan keluarga tentu saja tidak akan cukup untuk mengejar cita2 peradaban bukan?
    miss u…

  2. arum says:

    It’s not about an ambition of an individual
    It’s about two become one

    It’s not only about two become one
    It’s about a fight of dreams

    It’s not only about a fight of dreams
    It’s about a way to glory of Islam

  3. nuramaya says:

    saudariku….jangan saling menuding ya..yang telpon siapa n yang gelisah siapa..:-)
    yang pasti bukan aku…. hehe:)
    buat arum… sepakat deh… “a way to glory of Islam”.. so, cantumkan saja syarat itu bagi calon pangeran…:-)
    InsyaAllah… bakal ketemu kok… cuman…tinggal menunggu waktu saja, Allah berkenan gak, sekarang, ataukah yang akan datang…
    Luruskan niat saja, dalam menjalani segala episode hidup ini….
    salam……..:-)

  4. nuramaya says:

    Buat win, arum n lainnya kaum hawa, ada yang berpendapat begini loh….. (jadi nih rowa’hu)

    otoritas dan kekuasaan, dua sisi mata uang maskulinitas laki-laki. Tidak banyak laki-laki yang rela dua hal itu direbut oleh siapapun, termasuk istri. Setiap laki-laki pasti ingin berkuasa, dan otoritas sebagai suami menjadikan kekuasaannya absah.

    Dan juga kebebasan, watak yang tidak bisa dengan ditanggalkan begitu saja hanya karena sebuah ikatan yang dianggap membelenggu dan membatasi ruang gerak. Bahkan mereduksi otoritas pada diri sendiri.

    Maka, menikah, bagi laki-laki memberikan dua pilihan. Menambah atau membagi otoritas.Menambah otoritas berarti memasukkan istri sebagai pihak yang terdekat, dalam lingkaran pengaruh (kendalinya).Dengan atau dengan kekerasan. Bagi seprang laki-laki ini pekerjaan yang sangat mudah.

    Berbagi otoritas, memaksa laki-laki harus rela diintervensi oleh istri bahkan dalam hal otoritas yang sangat pribadi bagi dirinya.Tidak banyak yang menyukai hal ini. Sebab itu sedikit yang bersedia melakukannya.

    Sebab apa yang memaksa laki-laki harus berbagi?Karena ketidakmampuan atau kerelaan?
    Ketidakmampuan laki-laki akan tergantikan oleh perempuan, maka itu otoritas seketika akan terbagi. Namun, wilayah keluarga begitu luas yang mustahil semuanya terjangkau oleh laki-laki, maka ia pun harus rela berbagi.

    na… ada yang mo comment lagi gak neh… kaum adam blm memenuhi keterwakilannya neh….

  5. desy says:

    ahh.. semua itu kan cuma sok tau kita sebagai orang-orang yang belum menikah ^-^
    saya sih berhusnudzan kepada ikhwan-ikhwan kita lah, kalau mereka semua berpikiran terbuka, dan beritikad baik untuk selalu membuka ruang diskusi untuk setiap permasalahan dalam rumah tangga.
    * mungkin sedang mencoba menhibur diri😀 *

    tetap saja, tulisan yang bagus nur

  6. heni says:

    Banyak hal yang belum kupahami sebelumnya. banyak hal yang luput dari perhitungan. banyak hal yang hanya dilihat dari kacamata keinginan kita. tapi bagiku perempuan adalah luar biasa. baik perannya maupun pengorbanan yang dilakukannya.

  7. kita adalah apa yang kita fikirkan…
    n pasangan hidup kita adalah cerminan dari setiap diri… so… jadilah solihah maka engkau akan mendapatkan dia yang solih…
    fastabiqul khoirot….
    selalu berprasangka baik kepada Allah karena Allah Maha Baik…
    hanya terkadang kebaikan itu kita nilai menjadi sesuatau hal yang buruk…

    from.. inen (by blognya qolby)

  8. junda says:

    bagus tulisannya ..
    disinilah pentingnya alfahmu ..insya allah dengan itu pertanyaan dari nura akan terjawab dengan sendirinya
    oh ya hari ini ada audit halal MUI jadi inget web ini…oh ya menurut nura kalo sanitasi pakai alkohol hukumnya seperti apa?berpengaruh ndak dengan status halal sebuah product makanan..

  9. wahidah says:

    “Bisa jadi bermula dari pertanyaan inilah, seorang akhwat enggan menikah, karena takut eksistensi dirinya terhambat, takut tak diberi ruang oleh suaminya kelak”
    Jleg! Ada yg mengatakan bahwa konon kekhawatiran adalah penguras energi manusia dalam jumlah yg cukup besar. Alih2 melakukan banyak hal di depan mata dengan baik, justru merasa takut akan hal yg belum dialami. TAPI.. inilah yg ada di benak banyak akhwat, termasuk Wahid, mbak..
    Ibunya wahid ketika awal2 menikah lebih terbatas ruang geraknya akibat peran triple, istri, ibu, dan wanita bekerja. Semua bisa ibu selesaikan dengan baik, tapi ibu jadi tidak bisa leluasa melakukan banyak hal yg sebelum menikah menjadi kegemarannya. Alhamdulillah, dengan berjalannya waktu, banyak sekali kesesuaian yg berhasil dicapai, meski tidak mudah. Sama sekali ngga mudah.
    Makanya, ibu mengizinkan Wahid pergi sekolah ke luar negeri. Karena ada mimpi2 yg ingin diraih sebelum menikah. Syukurlah, Gusti Allah memberi jalan.
    KAta temen wahid, menikah tidaklah boleh membuatmu melepaskan visi hidup dari genggaman. Karena sebagiannya adalah alasan eksistensimu dan sebagian lainnya adalah sumber energimu untuk terus hidup.
    wahid suka tulisan mbak
    Terus berkarya. Semangaaaat ^_^

  10. nuramaya says:

    Yup… Semangat! semangat apa ya? Semangat nikah🙂.. hehe… wuah..seneng nih.. atas comentmu. jzklh. langsung terbayang dipelupuk mata, dirimu yang dulu, selalu saja tak sengaja ketemu dibeberapa tempat, dengan penuh semangat. mmm… energimu mengalir… semoga aq juga mengalirkan hal yang sama… ok deh… rajin berkunjung ya… semoga segera muncul tulisan yang baru..:-)
    oy, tetap ingat balik ke INA ya… negri kita butuh kita semua yang peduli, karena qt hingga detik ini belum merdeka….
    salam….

  11. Cakep tulisannya Mbak …dulu aku juga gitu..takut begini takut begitu ternyata setelah nikah dapet suami yang gak tanggung2 selalu support aku. Nah kan, jadi jgn berprasangka macem2 deh sama Allah. Percaya Allah benar2 memberikan tulang rusuk yang tepat untuk kita🙂. Nice share Mbak ^^

  12. Nuramaya says:

    yup piet…. alhamdulillah ya & barakallah… terimakasih atas kunjungannya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: