Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Antara Otoritas dan Berbagi

on March 25, 2009

Mungkin sudah ada yang pernah membaca tulisan ini dari komentar saya ditulisan sebelumnya. Tulisan ini, sebelumnya saya bagi untuk beberapa sahabat terdekat, yang sebenarnya bukan tulisan saya. Tapi, alangkah lebih baiknya, jika tulisan ini saya hadirkan kembali untuk menggelitik pembaca tentang bagaimana pandangan salah seorang laki-laki tentang makna “qowwam”nya…

Otoritas dan kekuasaan, dua sisi mata uang maskulinitas laki-laki. Tidak banyak laki-laki yang rela dua hal itu direbut oleh siapapun, termasuk istri. Setiap laki-laki pasti ingin berkuasa, dan otoritas sebagai suami menjadikan kekuasaannya yang absah. Dan juga kebebasan, watak yang tidak bisa dengan begitu saja ditanggalkan hanya karena sebuah ikatan yang dianggap membelenggu dan membatasi ruang gerak. Bahkan mereduksi otoritas pada diri sendiri.

Oleh sebab itu, menikah, bagi laki-laki memberikan dua pilihan. Menambah atau membagi otoritas.Menambah otoritas berarti memasukkan istri sebagai pihak yang terdekat, dalam lingkaran pengaruh (kendalinya).Dengan atau tanpa kekerasan. Bagi seorang laki-laki ini pekerjaan yang sangat mudah. Berbagi otoritas, memaksa laki-laki harus rela diintervensi oleh istri bahkan dalam hal otoritas yang sangat pribadi bagi dirinya.Tidak banyak yang menyukai hal ini. Sebab itu sedikit yang bersedia melakukannya.

Sebab apa yang memaksa laki-laki harus berbagi?Karena ketidakmampuan atau kerelaan? Ketidakmampuan laki-laki akan tergantikan oleh perempuan yang menyebabkan otoritas seketika akan terbagi. Namun, wilayah keluarga begitu luas. Amat sangat mustahil semuanya terjangkau oleh laki-laki, maka ia pun harus rela berbagi.

Itu salah satu pandangan laki-laki tentang makna “Qowwam”nya. Bagaimana dengan kaum perempuan? Ataukah pandangan kaum Adam yang lain? Meng-Amien-ni ataukah?

Pagi yang Beku, 25 Maret 2009

Jogja Masih Tetap Nyaman…:-)


2 responses to “Antara Otoritas dan Berbagi

  1. desy says:

    mmm… masih mbahas ini jeng ;))
    well bertambahnya otoritas dan kekuasaan seorang lelaki saat ia menikahi wanita adalah kemestian. Tentu saja ini dibarengi dengan bertambahnya tanggung jawab yang dipikulnya. Lha wong janjinya saja seberat janji para nabi je🙂
    Hanya saja cara dia mengelola otoritas dan kekuasaannya itu -termasuk membaginya- adalah berbeda pada tiap individu, tetap tidak bisa dipukul rata gitu.
    husnudzonku masih tetep tinggi kok😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: