Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

Memulai dari yang Halal untuk Setiap Petikan Kehidupan

on July 14, 2010

Islam sungguh indah, menempatkan yang halal diatas yang haram. Kedua hal ini, halal dan haram adalah bagian dari hukum syara’ yang saling berseberangan. Halal merujuk kepada hal-hal yang diperbolehkan, sedangkan haram merujuk pada hal-hal yang dilarang. Dalam setiap petikan kehidupan, halal dan haram akan senantiasa mengiringi kita. Mengawali hidup dengan yang halal…

Dimulai dari pernikahan barokah

Sebuah kehidupan berkeluarga, dimulai dengan sebuah prosesi indah nan agung yang dinamakan pernikahan. Sungguh, Islam telah menetapkan syariat pernikahan berupa perwujudan kehidupan yang halal. Sebelumnya, hubungan laki-laki dan perempuan tanpa status adalah diharamkan. Bahkan mendekatinya saja pun dilarang, sebagaimana firman Allah Swt sebagai berikut:”Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk” (QS. Al Isra [17]:32) Dengan adanya syariat pernikahan, sesuatu yang diharamkan tersebut menjadi halal. Ucapan ijab oleh seorang ayah terhadap anak gadisnya dan ucapan qabul (penerimaan) dari seorang laki-laki dalam sebuah prosesi akad nikah telah menjadikan halalnya hubungan kedua insan tersebut. Akad nikah tersebut tidak semata pengucapan ijab qabul tanpa makna. Akan tetapi dalam prosesi pernikahan tersebut mengandung perjanjian yang suci. Akad nikah menjadikan halal apa-apa yang sebelumnya haram dan membuat berpahala apa-apa yang sebelumnya merupakan dosa. Allah Swt telah menempatkan syariat menikah sebagai sebuah keutamaan. Pernikahan tersebut menjadikan kehidupan akan dimulai dengan yang halal dan membuahkan pahala bagi pasangan. Hal ini tentu saja menjadikan kedua insan tersebut cenderung dan merasa tentram hingga dijadikan kepada mereka rasa kasih dan sayang. Allah Swt berfirman, ”Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda kebesaranNya bagi orang yang berpikir.” (QS. Ar-Rum [30]:21) Inilah pernikahan barokah itu. Dimulai dengan ijab kabul yang sah, menjadikan halal dan berpahala segala yang sebelumnya haram dan berdosa, serta diberikan kecukupan rasa tentram, kasih dan sayang diantara kedua insan tersebut. Ada harapan besar pula untuk senantiasa memberikan keberkahan bagi kehidupan selanjutnya.

Jagalah makan dan minum

Dalam memulai kehidupan sebuah keluarga muslim, kita senantiasa diingatkan bahwa setiap muslim diperintahkan untuk hanya mengonsumsi makanan/minuman yang halal dan sebisa mungkin thoyyib (baik dan menyehatkan). Sebaliknya, kita terlarang mengonsumsi makanan/minuman yang haram. Allah Swt berfirman,Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat dibumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan, karena sesungguhnya setan itu adalah musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah [2]:168) Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kamu kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.(Al-Baqarah [2]:172) Secara alamiah, Allah telah menyediakan bagi manusia begitu banyak bahan pangan yang halal. Sedangkan yang haram itu jauh lebih sedikit jumlah dan jenisnya. Maka, amat logis jika kaidah pertama dan utama dari hukum fiqh menyatakan: ”apa pun yang bisa dikonsumsi adalah halal, kecuali yang diharamkan.” Adapun yang belum jelas statusnya, atau terletak antara halal dan haram, disebut syubhat. Dalam kaitan ini, Nabi Muhammad Saw memberi nasihat kepada umatnya agar menghindari yang syubhat, apalagi yang sudah jelas haramnya. Nabi Muhammad Saw bersabda, Setiap daging (bagian tubuh) yang tumbuh dari barang yang haram, maka api nerakalah baginya. (HR At-Tirmidzi) Ada dua kriteria yang menjadikan makanan itu haram, yakni makanan yang diharamkan secara Lidzaatihi, yaitu jenis makanan yang diharamkan karena secara zatnya diharamkan, dan makanan yang diharamkan secara Lighairihi, yaitu jenis makanan yang diharamkan karena cara mendapatkannya haram. 1. Makanan yang diharamkan secara Lidzaatihi Makanan yang diharamkan secara Lidzaatihi adalah jenis makanan yang diharamkan karena secara zatnya diharamkan. Adapun jenis makanan yang haram secara Lidzaatihi, antara lain: a) Jenis makanan yang disebutkan keharamannya dalam Al-Qur`an, antara lain: 1.) Bangkai (daging binatang yang mati tanpa disembelih). Hal ini tercantum dalam QS.Al-Baqarah [2]:173, QS.Al-Maidah [5]:3, dan QS.Al-An‘am [6]:145. 2.) Darah (darah yang mengalir dari seluruh binatang, kecuali Ikan). Hal ini tercantum dalam QS.Al-Baqarah [2]:173, Al Maidah [5]:3, dan Al An‘am [6]:145. 3.) Daging babi (dan seluruh produk dari babi). Hal ini tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]:173, Al-Maidah [5]:3, dan Al-An‘am [6]:145. 4.) Daging binatang yang disembelih dengan nama selain Allah. Hal ini tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]:173, Al-Maidah [5]:3, dan Al-An‘Aam [6]:145. 5.) Daging binatang yang tidak disebut asma Allah ketika disembelih. Hal ini tercantum dalam QS. Al-An‘am [6]:118, 121. Khamr (minuman/makanan yang memabukkan serta turunannya). Hal ini tercantum dalam QS. Al-Baqarah [2]:219, Al-Maidah [5]: 90-91. b) Jenis makanan yang disebutkan keharamannya dalam Al-Hadist, antara lain: 1.) Makanan/minuman yang menjijikkan (Jallalah). Segala hal yang menjijikkan (misalnya : cacing, bekicot, tikus, belatung, kecoa, ulat, dll) tidak boleh dikonsumsi. 2.) Daging binatang buas (yang bertaring dan berkuku tajam). Hal ini diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Rasulullah Saw melarang memakan semua binatang buas yang bertaring dan burung yang berkuku mencengkram. Misalnya: Harimau, Singa, Ular, Anjing, Kucing, Beruang, dan lain-lain. Pada dasarnya makanan berasal dari dua sumber, hal ini didasarkan pada asal zatnya, yaitu: hewani (produk hewan) dan nabati (produk tumbuhan). Semua tumbuhan pada umumnya adalah halal jika ia tidak beracun atau tidak diniatkan untuk digunakan dalam membuat makanan yang haram, seperti menanam anggur untuk membuat wine atau bir. Diperbolehkannya untuk memakan tumbuh-tumbuhan dan buah-buahan dijelaskan dalam Firman Allah Swt QS.Al-An’am [6]:141. Produk hewani dalam syariat Islam sudah dijelaskan dengan jelas. Hewan yang halal untuk dimakan hendaknya disembelih mengikuti ketentuan Islam. Menyembelih yang sah adalah memotong dua saluran utama leher hewan, yaitu saluran makanan dan pernafasan. Menyembelih yang sempurna adalah dengan terpotongnya juga dua urat nadi leher. Tujuan dari menyembelih hewan secara Islam, di samping untuk mematikan hewan juga untuk menghilangkan darah dari daging. Ini karena darah haram dikonsumsi. Ada kumpulan hewan yang tidak dibenarkan untuk dimakan, mengikuti mazhab Imam Syafi’i, seperti anjing, binatang yang bertaring dan bergading, binatang yang beracun, binatang yang hidup dalam dua alam, bangkai, binatang yang memakan najis semata-mata, dan babi. Dua faktor utama yang perlu dipegang untuk menentukan status halal adalah wajib menyebut nama Allah Swt saat penyembelihan. Al-Qur`an dengan tegas sudah mengatur hal itu dalam QS. An-Nahl [16]:115. 2. Makanan yang diharamkan secara Lighairihi Makanan yang diharamkan secara Lighairihi adalah jenis makanan yang diharamkan karena cara mendapatkannya haram. Hal ini akan dibahas pada bagian selanjutnya.

Pastikan harta kita: halal

Kehidupan dalam sebuah keluarga tidak akan lepas dari permasalahan pemenuhan kebutuhan atau nafkah. Apakah dapat diyakinkan bahwa kebutuhan hidup tersebut dapat dipenuhi dari sumber-sumber yang halal? Pada bagian sebelumnya telah dijelaskan bahwa makanan atau harta dapat diharamkan secara Lighairihi yakni diharamkan karena cara mendapatkannya haram. Adapun penjabaran harta yang diharamkan secara Lighairihi antara lain: a) Harta atau makanan dari hasil mencuri. Mencuri yang dimaksud adalah mengambil atau memanfaatkan sesuatu tanpa seijin pemilik yang sah. Diantara hal tersebut, antara lain:  Makanan yang halal secara zatnya, tetapi hasil mencuri.  Mencicipi buah/makanan tanpa minta ijin penjualnya saat berada di kios/warung. b) Harta dari hasil berjudi. Dalam hal ini, makanan atau harta hasil judi yang dimaksud adalah segala sesuatu yang dihasilkan dari membeli impian akan mendapatkan sesuatu yang luar biasa dengan pengorbanan yang kecil. Diantaranya yang termasuk kategori judi adalah:  Toto gelap (togel), judi totor, judi kartu, dan lain-lain  Judi melalui SMS di televisi.  Judi melalui sepeda gembira.  Judi melalui kuis, sayembara, kupon berhadiah, dan lain-lain. c) Harta dari hasil riba Harta dari hasil riba atau segala jual beli yang tidak jelas (ghoror), berpotensi membuat kecewa dan menimbulkan konflik dibelakang hari adalah haram hukumnya. Diantaranya yang sering terjadi dalam keseharian adalah:  Memanfaatkan bunga bank;  Jual beli sesuatu yang tidak jelas spesifikasinya (Misalnya Jual beli ketela, tetapi ketelanya masih di dalam tanah, atau jual beli anak hewan/ternak yang masih dalam kandungan);  Sistem ijon (pembelian padi sebelum masak dan diambil setelah masak). d) Harta dari hasil korupsi. Dalam hal ini yang termasuk didalamnya adalah segala harta yang diperoleh dengan mengambil hak (properti) masyarakat untuk kepentingan pribadi. e) Harta dari hasil jual beli barang haram.  Uang dari hasil jual beli Miras (minuman keras), Narkoba, dan lain-lain.  Uang dari hasil jual beli babi, daging bangkai, dan lain-lain. f) Harta dari hasil suap menyuap. Menyuap diartikan memberikan sesuatu (uang dan atau benda) kepada penguasa agar urusan menjadi lancar. Hal ini sering terjadi dalam permasalahan hukum, misalnya pejabat yang bersalah dapat menjadi tidak bersalah karena menyuap, atau beberapa profesi yang lain.

Berhias dengan yang Halal

Kebutuhan untuk mempercantik diri atau berhias merupakan sesuatu yang tak terhindarkan dalam sebuah keluarga. Berhias tidak hanya terbatas untuk perempuan, tetapi juga laki-laki. Secara umum, terdapat larangan dalam berhias yang menyerupai berhiasnya orang jahiliyah. “…Janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu…(Al Ahzab (33): 33)) Sedangkan sifat perhiasan (kosmetika) secara umum telah disebutkan oleh Nabi Saw sebagai berikut: “Wewangian laki-laki adalah apa yang tampak (jelas) baunya dan tersembunyi warnanya, dan wewangian perempuan adalah apa yang tampak warnanya dan tersembunyi baunya” (HR. Tirmidzi) Dalam berhias ada sepuluh hal yang disunnahkan. Hal ini diriwayatkan dari Aisyah Radhiyallahu Anha, Rasulullah Shalallahu Alaihi wa sallam telah bersabda: “Sepuluh hal yang termasuk fitrah: mencukur kumis, memotong kuku, menyela-nyela (mencuci) jari jemari, memanjangkan jenggot, siwaq, instinsyaq (memasukkan air ke hidung), mencabut bulu ketiak, mencukur rambut kemaluan, dan intiqashul maa’ (istinja). “Mush’ab bin Syaibah mengatakan: “Aku lupa yang kesepuluh, melainkan berkumur.” Sedangkan, berhias yang dilarang atau diharamkan untuk dilakukan antara lain: 1. Membuat tato dan merenggangkan gigi Wasym (tato) ialah memberi tanda pada muka dan tangan dengan warna biru dan lukisan. Larangan membuat tato dan merenggangkan gigi sebagaimana diriwayatkan: “Rasulullah SAW melaknat wanita yang mentato dan yang minta ditato tubuhnya, dan yang mengikir gigi dan yang minta dikikir giginya.”. (HR. Muslim) Dalam tindakan mengikir gigi, yakni memotong dan memendekkannya, Rasulullah SAW telah melaknat perempuan yang melakukan tindakan ini untuk orang lain dan orang yang meminta dikikir giginya. Sebagaimana Rasulullah mengharamkan mengikir gigi, beliau juga melarang menjarangkan gigi. “Rasulullah SAW melaknat wanita-wanita yang menjarangkan gigi untuk kecantikan, yang mengubah ciptaan Allah.” (HR. Bukhari dan Muslim). 2. Mencukur alis Tindakan berhias lainnya yang diharamkan dalam Islam ialah menghilangkan (mencukur) alis agar tinggi atau rata. Padahal dalam hal ini telah ditegaskan bahwa “Rasulullah SAW telah melaknat wanita yang mencukur alis dan minta dicukur alisnya.” (HR. Abu Daud). 3. Menyambung rambut Islam juga melarang perempuan menyambung rambutnya dengan rambut lain, baik rambut asli maupun rambut palsu yang sekarang terkenal dengan sebutan wig. Bukhari dan lainnya meriwayatkan dari Aisyah dan saudaranya Asma’, Ibnu Mas’ud, Ibnu Umar dan Abu Hurairah: “Sesungguhnya rasulullah SAW melaknat wanita yang menyambung rambut dan yang minta disambung rambutnya.”. Sedangkan bagi laki-laki juga demikian, diharamkan menyambung rambut dan disambung rambutnya. Dari beberapa hal dalam berhias yang diharamkan tersebut kesemuanya menunjukkan upaya merubah ciptaan Allah, sehingga untuk berhias yang tidak disebutkan diatas tetapi juga mengubah ciptaan Allah, hukumnya haram. Seperti halnya operasi plastik untuk kecantikan. Berhias dengan yang halal tidak dapat dilepaskan dari pertimbangan asal bahan kosmetika yang digunakan. Sebagaimana halnya pada makanan, kosmetika juga harus jelas kehalalannya. Hal ini berkaitan dengan kesucian, yakni ada kosmetika yang bahannya merupakan bahan najis, seperti kosmetika yang berasal dari bahan haram. Hal ini didasarkan bahwa sumber-sumber kosmetika dapat berasal dari tumbuh-tumbuhan, hewan, mikroba, sintetik kimia dan bahkan dari organ tubuh manusia. Kaidah yang dipakai dalam memilih kosmetika halal adalah seperti memilih makanan halal, yang disebutkan pada bagian awal. Apakah sumber bahan yang digunakan untuk membuat kosmetika adalah bahan halal ataukah haram.

Melanggengkan Hubungan, Menjauhi Perpecahan

Setelah kita berkeluarga, maka kita pun akan menjadi bagian dari masyarakat. Dalam Islam, ada dua hal yang menjadi pilar utama hubungan kemasyarakatan, yaitu: pertama, pemeliharaan ukhuwah, yang ia merupakan ikatan yang kokoh antara satu kelompok masyarakat dengan kelompok yang lain. Kedua, pemeliharaan hak dan kewajiban, serta kehormatan setiap individu, yang itu semua dilindungi oleh islam; yakni darah, harga diri, dan harta. Setiap ucapan atau tindakan yang menodai kedua pilar tersebut, diharamkan oleh Islam dengan kadar keharaman yang bertingkat-tingkat sesuai dengan tingkat kemudharatan yang ditimbulkannya; secara materi atau nonmateri. Allah Swt telah berfirman tentang beberapa hal yang dapat membahayakan ukhuwah dan kehormatan manusia, yaitu dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat [49]: 10-12. Dalam ayat tersebut, Allah Swt. menetapkan bahwa orang-orang mukmin adalah bersaudara. Mereka dihimpun oleh persaudaraan agama sekaligus ikatan kemanusiaan. Selain itu, ayat tersebut juga mengandung syariat tentang beberapa hal yang dapat meruntuhkan ukhuwah dan menodai kehormatan manusia, yaitu; 1. Janganlah suatu kaum merendahkan kaum yang lain. Larangan merendahkan seseorang atau menjadikannya objek tertawaan, hinaan, makian dan celaan. 2. Janganlah mencela diri sendiri. Dalam sebuah jamaah, ibarat ikatan satu tubuh. Jadi maksudnya adalah mencela orang lain, sama halnya dengan mencela diri sendiri. 3. Janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar yang buruk. Maksudnya adalah larangan memanggil dengan julukan dan gelar-gelar yang buruk, yang dapat membawa kepada penghinaan dan celaan. 4. Berburuk sangka (su’udzhan). Tidak halal bagi seorang muslim untuk berburuk sangka kepada saudaranya tanpa suatu alasan dan bukti yang jelas. 5. Memata-matai (tajassus). Islam menyamakan larangan su’udhzon dengan tajassus (sikap fisik memata-matai). 6. Menggunjing (Ghibah). Ghibah adalah membicarakan saudaramu dengan sesuatu yang tidak ia sukai. Jika perkataan yang dikatakan benar, berati menggunjing, sedangkan jika tidak benar, berarti bohong (fitnah). 7. Mengadu domba (Namimah). Namimah adalah menyampaikan pembicaraan yang didengar dari seseorang kepada orang yang menjadi obyek pembicaraan dengan tujuan untuk menimbulkan permusuhan antara mereka dan mengeruhkan, atau menambah keruhnya hubungan antar mereka. Demikianlah beberapa hal yang dapat menggangu kelanggengan hubungan sebuah keluarga dengan keluarga lain dimasyarakat. Bahkan akan menimbulkan perpecahan.

Yogyakarta, 21 Rabiul Awal 1430 H

Daftar Pustaka

Faudzil Adhim, Mohammad. 2001. Mencapai Pernikahan Barakah. Cetakan X. Mitra Pustaka. Yogyakarta.

Haya. 2003. Ensiklopedi Wanita Muslimah. Penerjemah: Amir Hamzah Fachrudin. Cetakan 12. Penerbit Daarul Falah. Jakarta

Maya Sari, Nura, SKH. 2007. Mom’s Guide; Memilih Makanan Halal. Qultum Media. Jakarta

Qardhawi, Yusuf. 2002. Halal dan Haram Dalam Islam. Cetakan 3. Robbani Press. Jakarta


One response to “Memulai dari yang Halal untuk Setiap Petikan Kehidupan

  1. yuari says:

    ayo bu nura…nulis lagi ya🙂 kasihan di blog….sepi…ditinggalkan pemiliknya dah hampir setahun….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: