Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

NEGARA KECIL: Sebuah Eksperimentasi Perwujudan Nilai dan Cita

on August 26, 2010

Bagian I

oleh: Andri Tri Kuncoro

Goresan pendek ini tak berambisi apapun, selain sekedar ingin berbagi sebuah gagasan sederhana tentang keluarga. Gagasan yang menawarkan sudut pandang yang (mungkin agak) berbeda terhadap sebuah institusi bernama keluarga, yakni memandang keluarga sebagai sebuah entitas politik dengan berbagai karakteristik, peranan, dan fungsi yang dimilikinya. Betapapun sederhananya……

Keluarga adalah Negara Kecil

Bagaimana keluarga dapat disebut sebagai institusi politik? Padahal ia hanyalah komunitas sederhana, tanpa atribut politis sebagaimana institusi politik lainnya. Dengan beberapa argumen berikut inilah kami ingin menjelaskan dan membaginya dengan anda sekalian. Pertama, keluarga, memenuhi semua syarat untuk disebut sebagai masyarakat (society). Beberapa syarat penting yang dimilikinya adalah adanya interaksi intensif antara dua atau lebih individu, dalam hal ini suami, istri, anak; ada seperangkat nilai yang mengikat antar individu tersebut dalam sebuah akad (kontrak). Nilai inilah yang memberi warna dan arahan bagi keluarga yang dibentuk nantinya; ada pembagian peran (spesialisasi) yang jelas di antara anggota keluarga, dan masing-masing bertanggung jawab atas peran yang dijalankannya itu; terdapat saling ketergantungan (interdependensi) di antara anggotanya, yang diakibatkan oleh faktor spesialisasi itu. Syarat terakhir, dan inilah yang terpenting, yaitu adanya cita-cita bersama di antara anggota keluarga, yang membuat mereka terjalin dalam sebuah kerja sama (amal jama’i) untuk mewujudkannya.

Argumen kedua, keluarga disebut sebagai batu bata pertama dan syar’i dalam bangunan sosial yang lebih kompleks bernama negara. Keluarga merupakan lembaga sosial pertama yang di dalamnya individu memulai kehidupannya dan darinya ia memperoleh berbagai nilai dan moral. Keluarga awalnya dibentuk oleh pernikahan dua orang, laki-laki dan perempuan. Dengan berbagai perbedaan yang dimilikinya, kemudian keduanya disatukan dengan ikatan syar’i yang membawa konsekuensi syariat setelahnya. Status sosial mereka juga berubah, yang awalnya hanya mewakili masing-masing individu kini telah mewakili sebuah keluarga, mendapatkan status dan pengakuan yang lebih tinggi dalam komunitasnya. Mereka memiliki warna, karakter dan cita-cita tersendiri yang memungkinkan bagi mereka untuk mewarnai komunitas yang telah memiliki keberagaman warna. Namun, mereka tetap anggota komunitas, oleh karena itu tetap terikat oleh norma sosial yang berlaku dalam komunitas itu.

Karena argumen di atas, maka idealisme tentang keluarga sama sekali tidak dapat dilepaskan dari idealisme tentang negara yang diimpikan (sebagai komunitas yang lebih kompleks). Artinya, bagaimana karakteristik negara yang ingin diciptakan, maka begitulah seharusnya terlebih dahulu keluarga diciptakan. Negara-negara maju hanya bisa dilahirkan oleh ribuan keluarga yang bervisi maju. Dan kehancuran sebuah negara pun pasti diawali hancurnya institusi yang lebih sederhana itu. Hal inilah yang menjadikan idealisme mengenai keluarga harus memiliki kaitan yang konsisten dengan idealisme mengenai sebuah negara. Kaitan yang erat dan karakter yang identik antara keduanya menjadikan kami memilih menyebut keluarga sebagai sebuah “negara kecil”. Tempat bagi setiap muslim melakukan eksperimentasi perwujudan nilai dan cita-cita yang diyakininya. Tempat bagi banyak laki-laki mengasah kepiawaiannya sebagai qowwam. Tempat bagi banyak generasi pilihan belajar mengelola sebuah pluralitas dan mengasah jiwa pelayanannya. Dan dalam banyak kasus, juga menjadi tempat bagi para pemimpin mempertaruhkan reputasi kepemimpinannya.

Argumen keempat, inilah yang terpenting, yaitu kesadaran kami—sebagaimana kesadaran semua pengikut ahlus sunnah bahwa menegakkan kepemimpinan tunggal umat Islam (khilafah) yang legal dan benar merupakan salah satu kewajiban agama yang fundamental, dengan dalil apapun. Jika demikian, membentuk keluarga yang Islami sebagai batu bata penyusunnya adalah wajib juga hukumnya. Kesadaran inilah yang melandasi semua argumentasi kami. (bersambung)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: