Nuramaya

Memulai dengan yang halal dan sehat

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

on December 16, 2013

Segala puji hanya milik Allah. Apabila kita senantiasa bersyukur maka semakin banyak pemberian Allah yang kita rasakan. Tanpa terkecuali apakah rizki itu berupa harta, suami atau istri, anakanak, nikmat sehat atau bahkan yang tak dapat terlihat secara lahiriah seperti ketenangan batin dan kebesaran hati. Dimana kedua hal tersebut acapkali hilang dan dicari oleh banyak orang yang diliputi nikmat materi. Semoga kita tak pernah lelah mengucap syukur setiap detiknya atas segala pemberian Allah tersebut.

Saya pun ingin berbagi rasa syukur atas nikmat yang telah Allah berikan pada kami sekeluarga, yakni saya, suami dan anakanak. Menjadi seorang ibu rumah tangga yang memiliki tiga orang putra menjadi hal yang luar biasa bagi saya. Bagaimana tidak, usia pernikahan kami, saya dan suami, baru memasuki tahun keempat. Tetapi kami sudah memiliki tiga orang putra dengan si sulung, Khunais Ibadurrahman, usia 3 tahun 7 bulan, disusul yang kedua dengan jarak 22 bulan, Shalahuddin Ghazi, sekarang usianya 23 bulan. Allah sungguh Maha Pengasih Penyayang, belum genap usia Ghazi setahun, bahkan kirakira usianya 7 bulan, saya sudah mengandung lagi anak ketiga. Sungguh produktif kan saya? Jadi, saat umur 16 bulan, Ghazi telah beradik Nuruddin Zanki.

Mungkin pengalaman punya banyak anak dan berjarak dekat usianya sudah banyak dialami oleh beberapa ibu. Dari kabar rekan yang seusia, beberapa dari mereka  juga mengalami hal yang sama, memiliki balita lebih dari 2 dan jarak usianya cukup dekat. Alhasil, karena kedekatan usia tersebut, menjadikan mereka amat dekat dan akrab. Mas, begitu si sulung di panggil terkadang sudah bisa menjadi guru dalam beberapa hal. Misal, saat membaca buku, Mas sudah bisa menceritakan kembali  isi buku itu ke adikadiknya, dengan bahasa yang seperti kita contohkan. Atau saat mau makan, si Mas akan membaca doa sebelum makan keraskeras, yang tentunya akan diikuti oleh adiknya. Bahkan, kemanapun Mas pergi,  Ghazi akan mengikutinya, dan melakukan hal sama dengannya.

Lain halnya kedekatan si Sulung dengan adiknya, Ghazi, Mas juga menjalin kedekatan dengan si bungsu, Zanki, dengan cara lain. Mas akan membuat akrobat menarik yang mampu membuat Zanki yang baru berumur 6 bulan terkekehkekeh. Atau mas juga menceritakan kembali cerita Umi ke adiknya sambil mengeluselus tangan atau kepalanya. Oleh sebab itu, Zanki pun memberikan respon positif  saat didekati Mas, entah tersenyum ataupun sampai tertawa. Bahkan akan mencaricari Mas saat tak nampak di penglihatannya.

Bagaimana kedekatan Ghazi dengan Zanki? Oh, mereka tentu saja memiliki hubungan yang sangat khusus. Mereka satu periode sepersusuan. Maksudnya? Saat saya mengandung Zanki, aktivitas menyususi Ghazi tetap saya lakukan, dan alhamdulillah semuanya sehat dan bahkan Zanki memiliki berat badan lahir lebih berat dari ketiganya. Terkait dengan tumbuh kembang Zanki pun tidak ada masalah. Zanki tumbuh dan berkembang sesuai dengan periode usianya. Ghazi dan Zanki dalam satu periode sepersusuan, maksudnya, sampai sekarang Ghazi masih menyusu bersama Zanki. Jadi, jika Zanki menyusu maka Ghazi akan mendekat dan juga ikut menyusu. Saat menjelang tidur dan bahkan terbangun saat tidur malam, ghazi pun ikut menyusu juga. Sebenarnya bukan ikut, tapi memang ASI juga hak Ghazi, karena usianya belum genap 2 tahun.

Awalnya, sangat berat rasanya menyusui 2 orang anak sekaligus. Terlebih Ghazi akan menangis histeris jika tidak di beri Air Susu Ibu (ASI).  Tentu saja menambah rasa panik saya jika keduanya menangis. Kemudian, saya mencoba mencari artikel tentang menyusui anak kembar dan tandem nursing. Ternyata, teknik menyusuinya tidak bergantian, tetapi sekaligus bersamaan satu periode waktu. Alhasil, kedua anak ini menjadi sangat kompak. Jika Ghazi belum datang mendekat, Zanki akan menunggu dengan enggan menyusu. Begitu pula Ghazi, dia akan mendahulukan adiknya pada posisi mapan menyusu, setelahnya baru dia menempatkan diri. Saat Zanki belum bisa tidur maka Ghazi pun demikian. Sebaliknya, mereka pun akan tertidur bersamaan. Walaupun berbeda usia, mereka layaknya anak kembar, hati mereka saling bertaut. Subhanallah.

Terlepas dari hiruk pikuknya pekerjaan rumah tangga yang senantiasa hadir setiap harinya. Kebersamaan saya bersama mereka sungguh luar biasa. Dari ketiga anak ini, Allah telah memberikan begitu banyak pelajaran hidup yang dapat menjadikan saya senantiasa bersyukur. “Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Bukittinggi.

Tulisan ini saya buat untuk memenuhi tugas pertama di kelas menulis yang di asuh oleh Bu Ida Nur Laila dan Pak Cahyadi Takariawan.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: